Yahya Rahim Safavi, penasihat senior militer mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, meyakini bahwa konflik berdarah melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel akan segera berakhir sebelum perayaan Tahun Baru Nowruz. (Foto: AFP)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di tengah kecamuk perang yang kian membara, sebuah prediksi optimistis sekaligus bernada teka-teki meluncur dari mulut petinggi militer Iran. Yahya Rahim Safavi, penasihat senior militer mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, meyakini bahwa konflik berdarah melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel akan segera berakhir sebelum perayaan Tahun Baru Nowruz pada 21 Maret mendatang.
“Anggapan saya, perang ini akan tuntas sebelum Nowruz,” cetus Safavi sebagaimana dikutip dari Kantor Berita ISNA, Kamis (12/3/2026).
Pernyataan Safavi ini menjadi sorotan di tengah bayang-bayang kehancuran infrastruktur Iran akibat bombardir masif pihak lawan.
Trump: Tak Ada Lagi yang Bisa Diserang
Sinyal berakhirnya konflik sebenarnya juga ditiupkan oleh Washington, meski dengan nada yang jauh lebih sombong. Presiden AS Donald Trump, pada Rabu (11/3/2026), melontarkan klaim provokatif bahwa militer AS telah melumat hampir seluruh titik vital di Teheran.
“Tidak akan ada lagi yang tersisa untuk diserang di sana,” ujar Trump.
Namun, sang presiden juga menegaskan bahwa Washington belum berniat menghentikan operasi militer sepenuhnya dalam waktu dekat, sebuah sinyal bahwa tekanan maksimal masih akan terus berlanjut hingga tujuan politik mereka tercapai.
Suksesi di Bawah Desing Peluru
Struktur kepemimpinan Iran saat ini memang sedang berada dalam masa transisi paling krusial. Ayatollah Ali Khamenei, sang panglima tertinggi, tewas pada hari pertama agresi. Tongkat estafet kini berada di tangan putranya, Mojtaba Khamenei, yang dipilih secara kilat untuk memimpin republik Islam tersebut melewati badai perang.
Menariknya, hingga saat ini otoritas Teheran belum mengumumkan adanya perombakan besar di jajaran tinggi militer. Safavi dan jenderal-jenderal senior lainnya tetap berada di pos masing-masing, mencoba menahan gempuran operasi militer yang kini terungkap memiliki agenda utama: regime change alias penggulingan kekuasaan.
Topeng Nuklir yang Terkelupas
Palagan yang pecah sejak 28 Februari lalu ini awalnya dibungkus dengan alasan klasik; penghancuran program nuklir Iran. Namun, seiring berjalannya waktu, Washington dan Tel Aviv semakin terang-terangan mengakui bahwa target mereka jauh melampaui fasilitas nuklir. Mereka menginginkan perubahan kekuasaan total di Iran.
Iran sendiri tidak tinggal diam. Sejak serangan pertama mendarat di wilayahnya, Teheran langsung meluncurkan balasan sengit ke wilayah Israel dan berbagai fasilitas militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Kini, dunia menanti apakah prediksi Safavi akan menjadi kenyataan atau justru Nowruz tahun ini akan dirayakan di bawah kepulan asap mesiu yang lebih pekat. Apabila pernyataan Trump benar bahwa target sudah habis, maka gencatan senjata seharusnya tinggal menunggu waktu.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











