Awan hitam kembali menyelimuti Stamford Bridge di awal tahun 2026. Persiapan Chelsea untuk menghadapi laga big match melawan Manchester City akhir pekan ini mendadak kacau balau setelah klub secara resmi mengonfirmasi kepergian pelatih kepala, Enzo Maresca, Kamis (1/1).
Keputusan mengejutkan ini mengakhiri masa jabatan 18 bulan pelatih asal Italia tersebut, menyusul dua pekan penuh drama yang mengungkap keretakan hubungan fatal antara Maresca dan jajaran petinggi klub.
Puncak dari “Perang Dingin”
Benih perpecahan ini mulai tercium publik pada pertengahan Desember lalu. Usai kemenangan rutin 2-0 atas Everton, Maresca melakukan tindakan tak terduga dengan “membajak” konferensi persnya sendiri. Alih-alih membahas taktik, ia melontarkan refleksi pedas mengenai apa yang ia sebut sebagai “48 jam terburuk” dalam masa jabatannya.
Penolakan Maresca untuk mengklarifikasi apakah kritiknya ditujukan kepada direktur olahraga bersama (Paul Winstanley dan Laurence Stewart) atau pemilik bersama Behdad Eghbali, semakin memperkeruh suasana. Ketegangan ini memicu periode kelam yang berujung pada pembicaraan krisis hari Kamis, di mana kedua belah pihak sepakat bahwa situasi sudah tidak dapat dipertahankan.
Pernyataan Resmi Klub
Dalam pernyataan singkat namun tegas, Chelsea mengonfirmasi perpisahan tersebut.
“Chelsea Football Club dan Pelatih Kepala Enzo Maresca telah berpisah,” bunyi rilis resmi klub.
“Dengan tujuan-tujuan utama yang masih harus diperjuangkan di empat kompetisi, termasuk kualifikasi Liga Champions, Enzo dan Klub percaya bahwa perubahan akan memberikan tim peluang terbaik untuk mengembalikan musim ke jalur yang benar. Kami mendoakan yang terbaik bagi masa depan Enzo.”
Kursi Panas Era BlueCo: Mencari Manajer Kelima
Kepergian Maresca menambah panjang daftar pelatih yang gagal bertahan lama di bawah rezim kepemilikan BlueCo. Maresca, yang menandatangani kontrak lima tahun pada 18 bulan lalu, awalnya diproyeksikan sebagai manajer masa depan. Namun, nasibnya berakhir sama seperti pendahulunya: Mauricio Pochettino, Graham Potter, dan Thomas Tuchel, yang semuanya gagal menemukan harmoni dalam sistem kerja Chelsea saat ini.
Ironisnya, pencarian pengganti Maresca akan kembali dipimpin oleh duo direktur olahraga, Winstanley dan Stewart—figur yang sama yang merekrut Maresca dan kini berada di bawah sorotan tajam suporter yang mulai muak dengan arah kebijakan klub.
Jadwal Neraka Menanti Tanpa Nahkoda
Waktu perpisahan ini bisa dibilang sangat berisiko. Chelsea tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Lawatan ke markas Manchester City pada 4 Januari nanti akan menjadi pembuka dari rangkaian “jadwal neraka”.
Bulan Januari ini, The Blues harus melakoni sembilan pertandingan di semua kompetisi, termasuk semifinal Carabao Cup melawan Arsenal dan laga hidup-mati Liga Champions melawan Napoli.
Dengan posisi tim yang masih terlempar dari empat besar Premier League, kegagalan mengamankan tiket Liga Champions musim depan akan semakin memperparah krisis di London Barat.














