Riset: Bicara Kasar ke ChatGPT Bikin Jawaban Lebih Akurat!

Riset: Bicara Kasar ke ChatGPT Bikin Jawaban Lebih Akurat!

Ikhsan Medium.jpeg

Minggu, 9 November 2025 – 02:32 WIB

Sebuah penelitian membuktikan nada kasar ke ChatGPT tingkatkan akurasi jawaban hingga 84,8 persen. (Foto: 123RF)

Sebuah penelitian membuktikan nada kasar ke ChatGPT tingkatkan akurasi jawaban hingga 84,8 persen. (Foto: 123RF)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dunia teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali dikejutkan dengan temuan yang terbilang kontroversial. Sebuah penelitian terbaru menguak fakta unik: ketika pengguna berinteraksi dengan chatbot berbasis AI, seperti ChatGPT, menggunakan nada yang kasar atau menuntut, chatbot tersebut justru cenderung memberikan jawaban yang lebih akurat dibandingkan saat diajak bicara dengan nada sopan.

Hasil penelitian ini, yang diterbitkan di arXiv pada 6 Oktober 2025, sebagaimana dilansir Live Science, secara tidak langsung membalik anggapan bahwa kesopanan selalu membawa hasil terbaik, setidaknya dalam dunia komunikasi manusia-mesin.

Penelitian yang bertujuan menguji apakah kesopanan atau kekasaran benar-benar memengaruhi kinerja sistem AI ini menggunakan metodologi yang cukup menarik.

Para peneliti menguji 50 soal pilihan ganda yang mencakup beragam topik, mulai dari sains, matematika, hingga sejarah. Setiap soal diajukan kepada ChatGPT sebanyak sepuluh kali dengan lima kategori nada yang berbeda: sangat sopan, sopan, netral, kasar, dan sangat kasar.

Dari ‘Bisakah Saya Meminta Bantuan?’ hingga ‘Hei, Pesuruh!’

Data yang dikumpulkan menunjukkan korelasi yang jelas. Ketika diajukan dengan nada yang paling santun –misalnya, “Bisakah saya meminta bantuan Anda untuk pertanyaan ini?”– ChatGPT memberikan tingkat akurasi sekitar 80,8 persen. Namun, akurasi ini terus meningkat seiring tingkat kekasaran yang digunakan.

Riset mencatat permintaan dengan nada sangat sopan memiliki tingkat akurasi jawaban 80,8 persen, lalu nada sopan 81,4 persen, nada netral 82,2 persen, nada kasar 82,8 persen, dan nada sangat kasar mencapai akurasi 84,8 persen.

Peningkatan akurasi tertinggi, yakni mencapai 84,8 persen, diperoleh saat pertanyaan diajukan dengan nada yang paling kasar, seperti: “Hei, pesuruh; coba pikirkan ini,” atau “Saya tahu kamu tidak pintar, tapi coba ini.”

“Hasil kami menunjukkan bahwa nada suara yang kasar menghasilkan hasil yang lebih baik daripada nada suara yang sopan,” tulis para peneliti dalam makalah mereka, mengakui temuan yang tidak terduga ini.

Sensitivitas ChatGPT dan Etika Prompt

Kendati demikian, para peneliti langsung memberikan catatan penting: hasil penelitian yang masih terbatas ini sama sekali tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap tidak sopan atau menghardik chatbot setiap saat.

Sebaliknya, temuan ini menjelaskan bahwa ChatGPT, dan mungkin chatbot AI lainnya, ternyata sangat sensitif terhadap petunjuk (prompt cues) yang diberikan oleh pengguna. Nada kasar, dalam konteks ini, mungkin bekerja sebagai perintah yang sangat spesifik dan memaksa model AI untuk mencari jawaban dengan lebih keras dan langsung ke intinya, tanpa perlu ‘memproses’ konteks permintaan yang bertele-tele atau penuh basa-basi.

Para peneliti sama sekali tidak menyarankan penggunaan interaksi antarmuka (interface) yang bersifat agresif atau toxic dalam interaksi manusia-AI.

Penggunaan bahasa yang menghina atau merendahkan dapat berdampak negatif pada pengalaman pengguna dan, yang lebih parah, berkontribusi menciptakan kebiasaan komunikasi yang buruk yang terbawa ke interaksi dunia nyata.

Penelitian ini merupakan bagian integral dari bidang baru yang disebut rekayasa prompt (prompt engineering), sebuah disiplin ilmu yang berupaya menyelidiki secara mendalam bagaimana struktur, gaya, dan bahasa yang digunakan dalam prompt memengaruhi hasil dan efektivitas chatbot berbasis AI.

Temuan ini membuka babak baru dalam memahami psikologi tersembunyi di balik mesin cerdas.
 

Topik
Komentar

Visited 4 times, 1 visit(s) today