Rupiah Perkasa Tutup Pekan di Rp17.630 per Dolar AS, Rebut Posisi Terkuat dalam 15 Pekan!

Rupiah Perkasa Tutup Pekan di Rp17.630 per Dolar AS, Rebut Posisi Terkuat dalam 15 Pekan!

Ikhsan Medium.jpeg

Jumat, 4 September 2026 – 18:48 WIB

Rupiah perkasa di Rp17.630 per dolar AS pada akhir pekan ini, terkuat dalam 15 pekan. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Rupiah perkasa di Rp17.630 per dolar AS pada akhir pekan ini, terkuat dalam 15 pekan. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil menutup perdagangan akhir pekan ini dengan raihan positif. Keperkasaan mata uang Garuda merayap naik hingga menyentuh posisi tertinggi dalam kurun 15 pekan terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah menguat 0,11 persen ke level Rp17.630 per dolar AS. Sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi, rupiah sebenarnya sudah tancap gas di zona hijau dengan menguat 0,23 persen ke posisi Rp17.610 per dolar AS, meski apresiasinya sempat terpangkas 20 poin menuju bel penutupan.

Imbas Ambruknya Indeks Dolar AS dan Amukan Yen

Kendati indeks dolar AS (DXY) terpantau merambat naik tipis 0,12 persen ke level 99,026 pada pukul 15.00 WIB, rupiah tetap memperoleh amunisi dari pelemahan tajam greenback pada hari sebelumnya. Pada Kamis lalu, DXY terjerembap hingga 0,69 persen, memberi napas lega bagi mata uang negara berkembang untuk unjuk gigi.

Tekanan terhadap dolar AS salah satunya dipicu oleh lonjakan tajam mata uang yen Jepang yang melesat lebih dari dua persen hingga menyentuh 155,47 yen per dolar AS –mendekati posisi terkuatnya sejak awal Mei. Melesatnya yen tak lepas dari menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) sebesar 25 basis poin pada September yang peluangnya kini menembus 75 persen.

Sinyal pengetatan tersebut kian menyengat setelah anggota Dewan Kebijakan BOJ Hajime Takata menegaskan bank sentral perlu menaikkan suku bunga secara lebih cepat untuk menahan laju inflasi. Mengingat yen merupakan salah satu komponen utama pembentuk DXY, lonjakan mata uang Negeri Sakura ini otomatis membebani pergerakan indeks dolar AS.

Sinyal Menahan Suku Bunga The Fed dan Menanti Data Tenaga Kerja

Dolar AS makin terdesak setelah Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller melempar sinyal pelonggaran sikap. Waller memberi lampu hijau untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan bulan ini apabila indikator ekonomi berikutnya membuktikan tekanan inflasi mulai melandai.

Pernyataan tersebut langsung memangkas ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September dari 59 persen menjadi 48 persen. Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi relatif kurang menarik, yang pada akhirnya memberikan tenaga ekstra bagi rupiah meski DXY sempat berbalik menguat terbatas.

Kini, perhatian pasar global tertuju pada rilis laporan tenaga kerja AS yang akan meluncur Jumat malam waktu Indonesia. Para ekonom memproyeksikan perekonomian AS mampu menciptakan 56.000 lapangan kerja baru sepanjang Agustus, berbalik dari kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli.

Data yang lebih lemah dari perkiraan diprediksi bakal makin mengikis peluang kenaikan suku bunga The Fed sekaligus menekan dolar AS. Sebaliknya, jika laporan tenaga kerja mencatatkan angka yang solid, ekspektasi pengetatan moneter AS berpotensi kembali mencuat ke permukaan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 1 times, 1 visit(s) today