Rupiah Terperosok ke Rp16.636, Sentimen Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Rupiah Terperosok ke Rp16.636, Sentimen Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 30 Oktober 2025 – 22:02 WIB

Nilai tukar rupiah anjlok 0,11 persen ke Rp16.636 per dolar AS pada penutupan Kamis (30/10/2025) sebagai sentimen dari pemangkasan suku bunga The Fed dan prospek kebijakan moneter longgar BI. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Nilai tukar rupiah anjlok 0,11 persen ke Rp16.636 per dolar AS pada penutupan Kamis (30/10/2025) sebagai sentimen dari pemangkasan suku bunga The Fed dan prospek kebijakan moneter longgar BI. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan taji yang kurang bertenaga di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda terperosok dan ditutup pada posisi Rp16.636 per dolar AS dalam perdagangan pasar spot Kamis (30/10/2025). Tekanan ini cukup kentara, tercermin dari penurunan sebanyak 19 poin atau setara dengan minus 0,11 persen.

Seirama dengan pelemahan di pasar spot, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), juga memosisikan rupiah pada level yang lebih rendah, yakni Rp16.640 per dolar AS. Pergerakan yang senyap ini mengindikasikan adanya sentimen kuat dari eksternal yang menyeret rupiah ke zona merah.

Pemangkasan The Fed Jadi Pemicu Utama

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menggarisbawahi faktor utama di balik anjloknya rupiah. Menurutnya, pelemahan signifikan ini dipicu oleh aksi korporasi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang secara mengejutkan memangkas suku bunga acuannya.

“Rupiah melemah imbas tertekan oleh penguatan Dolar AS menyusul pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin,” ujar Lukman Leong.

Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga sejatinya bertujuan menstimulasi perekonomian AS. Namun, langkah ini justru berimbas pada penguatan kurs dolar AS di pasar global. Imbasnya, mata uang dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi sasaran empuk pelemahan.

Aliran modal cenderung kembali ke aset-aset dolar AS yang dianggap lebih stabil di tengah gejolak global.

Prospek Longgarnya Kebijakan BI Perburuk Keadaan

Tak hanya sentimen dari Negeri Paman Sam, Lukman juga menambahkan bahwa prospek kebijakan moneter domestik turut memperburuk kondisi rupiah. Isu mengenai potensi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) serta kebijakan pemerintah yang cenderung longgar semakin membebani mata uang nasional.

“Di sisi lain rupiah masih terus tertekan oleh prospek pemangkasan suku bunga BI dan kebijakan longgar pemerintah,” tambahnya.

Spekulasi pasar bahwa BI akan mengikuti jejak The Fed dengan melonggarkan kebijakan moneter membuat rupiah kehilangan daya tariknya di mata investor.

Kebijakan suku bunga rendah, meski bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, secara simultan dapat mengurangi imbal hasil aset berbasis rupiah, yang pada akhirnya memicu capital outflow atau keluarnya modal asing.

Mata Uang Asia dan Mayoritas Dunia Bervariasi

Di tengah tekanan yang melanda rupiah, pergerakan mata uang Asia lainnya juga tampak bervariasi, namun mayoritas bergerak melemah mengikuti tren regional. Tercatat, peso Filipina jatuh 0,40 persen, yen Jepang melorot 0,41 persen, ringgit Malaysia tertekan 0,25 persen, dolar Singapura turun tipis 0,09 persen, dan baht Thailand melemah 0,16 persen. Hanya won Korea Selatan yang mampu bertahan dan menguat tipis 0,07 persen.

Senada dengan Asia, mata uang utama negara maju juga menunjukkan pergerakan yang tidak seragam. Euro dan franc Swiss kompak naik 0,09 persen. Dolar Australia juga menguat tipis 0,03 persen, sedangkan dolar Kanada hanya bergerak mendatar 0,00 persen.

Fluktuasi yang terjadi di pasar global ini menunjukkan bahwa keputusan The Fed telah menciptakan ketidakpastian yang luas, memaksa setiap mata uang mencari keseimbangan barunya di tengah tekanan dolar AS yang semakin perkasa.
 

Topik
Komentar

Visited 2 times, 1 visit(s) today