Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam acara ‘Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor’ di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026). (Foto: Inilah.com/Clara Anna).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak 2004 hingga 2024. Dia membaginya dalam dua dekade.
Pada dekade pertama yakni 2004-2014, mantan Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar itu menyampaikan nilai tukar rupiah mengalami depresiasi 40 persen. Pada 2005, inflasi mencatatkan angka 17 persen, imbas lonjakan harga minyak dunia yang mencapai US$140 per barel.
“Saya hanya menyampaikan, rupiah pada 2004-2014 terdepresiasinya 40 persen dalam 10 tahun,” kata Menko Airlangga dalam acara ‘Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor’ di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Pada dekade kedua, yakni periode 2014 ke 2024, lanjut Menko Airlangga, mata uang Garuda kembali mengalami tekanan. Namun angkanya lebih rendah yakni 30,6 persen. Sementara tingkat inflasi jauh lebih rendah, berada di kisaran 3 persen. “Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir dan per hari ini, inflasi kita bisa terjaga di level 2,4 persen. Dan, depresiasi rupiah hanya 5 persen,” jelas dia.
Dia pun menegaskan, fundamental ekonomi di Indonesia pada saat ini kondisinya lebih kuat. Sektor perbankan dan korporasi nasional masih berada dalam kondisi sehat di tengah gejolak global.
“Perbankan kita hari ini solid, kemudian dari segi korporasi juga seluruhnya solid. Jadi seperti yang saya selalu sampaikan ekonomi kita masih kuat,” tegasnya.
Rupiah Sulit Berbalik ke Rp16.000/US$
Meski Menko Airlangga menyebut rupiah hanya terdepresiasi 5 persen, jangan tenang-tenang saja. Karena untuk bisa membalikkan rupiah ke level Rp17.000 bahkan Rp16.000 per dolar AS, bukanlah perkara mudah.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede menilai, secara teori, ruang bagi nilai tukar rupiah untuk kembali menguat ke bawah level psikologis Rp17.000/US$, memang masih terbuka.
Berdasarkan pendekatan teori nilai tukar riil efektif, posisi wajar mata uang Indonesia dalam kondisi normal memang berada jauh di bawah level saat ini, sehingga estimasi penguatan untuk periode Juni hingga Agustus masih memiliki landasan matematis.
Namun, Josua mengingatkan, pergerakan mata uang tidak pernah steril dari dinamika geopolitik. “Kalau kita melihat teori real effective exchange rate-nya (REER) rupiah, dalam kondisi normal, mestinya berada di bawah Rp17.000. Sehingga hitungan teori pada Juni atau Agustus, rupiah menguat ke Rp16.200, sebenarnya masih masuk akal. Akan tetapi, rupiah pada saat ini, tidak bekerja di ruang hampa,” ujar Josua.
Dia pun menekankan, kalkulasi di atas kertas harus berhadapan dengan pasar yang sedang wait and see dalam mengantisipasi asesmen dari beberapa lembaga rating global, yakni S&P dan MSCI.
Hambatan terbesar yang membuat rupiah cenderung rapuh dalam jangka menengah berakar pada penurunan kinerja fundamental Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pembengkakan defisit transaksi berjalan yang dipicu penurunan nilai ekspor serta tingginya beban impor minyak mentah akibat konflik global menjadi faktor penekan utama.
Kondisi ini membuat surplus pada pos finansial tidak lagi mampu menutupi celah defisit struktural, sehingga keseluruhan NPI diperkirakan masih mencatatkan hasil negatif sisa tahun ini.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














