Gedung Badan Pusat Statistik (BPS). (Foto: Antara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menggugat pernyataan Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS (Badan Pusat Statistik), Ateng Hartono yang menyebut inflasi Juni 2026 sebesar 3,34 persen, masih terkendali.
“Apa gunanya narasi inflasi terkendali, jika keluarga kelas menengah tetap harus menghitung ulang biaya bensin, ongkos perjalanan, tiket pesawat, biaya sekolah, cicilan, dan belanja bulanan di saat yang sama,” tegas Achmad Nur di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Pertanyaan menohok itu muncul setelah BPS merilis data inflasi Juni 2026, sebesar 0,44 persen secara bulanan (month to month/mtm) atau sebesar 3,34 persen secara tahunan (year on year/yoy).
“Secara makro, angka itu masih terlihat aman. Akan tetapi, bagi rumah tangga berpendapatan tetap, inflasi bukan sekadar angka rata-rata. Namun tekanan kas yang membuat beban hidup semakin berat,” tandasnya.
Ya, Achmad Nur, benar. BPS mencatat, Indeks Harga Konsumen pada Juni 2026, berada di level 111,89. Dengan inflasi tahun kalender sebesar 1,79 persen dengan inflasi inti tahunan sebesar 2,76 persen. Sedangkan Bank Indonesia (BI) menyatakan, inflasi IHK pada Juni 2026, berada di kisaran sasaran 2,5 plus-minus 1 persen.
“Secara teknokratis, pemerintah dapat mengatakan stabilitas harga masih terjaga. Akan tetapi, cara membaca inflasi tidak boleh berhenti pada rata-rata nasional,” imbuhnya.
“Rata-rata yang tampak jinak dapat menyembunyikan tekanan berat di kelompok tertentu, terutama kelas menengah bawah yang tidak selalu mendapat bantuan sosial, tetapi belum cukup kuat menahan guncangan harga,” tandasnya.
Dalam paparan BPS, kelompok transportasi mengalami inflasi bulanan 2,29 persen dengan andil 0,28 persen terhadap inflasi Juni 2026. Di mana, bensin menyumbang andil 0,21 persen, tarif angkutan udara 0,05 persen, dan pelumas atau oli mesin 0,01 persen.
Secara tahunan, kelompok transportasi mengalami inflasi 4,57 persen dengan andil 0,55 persen terhadap inflasi tahunan medio Juni 2026. “Ini bukan tekanan kecil, sebab transportasi bukan konsumsi mewah bagi pekerja, pelaku usaha kecil, mahasiswa, dan keluarga perkotaan,” tandasnya.
Pada Selasa (1/7/2027), Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengumumkan inflasi tahunan Juni 2026, mencapai 3,34 persen.
Ditegaskan bahwa inflasi masih tetap terkendali hingga paruh pertama 2026, karena masih berada di kisaran sasaran inflasi, yakni rentang 1,5 hingga 3,5 persen.
“Pada Juni 2026, terjadi inflasi sebesar 3,34 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026,” ujar Ateng.
Lebih lanjut, Ateng merinci tiga kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan hingga Juni 2026. Andil inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi sebesar 1,36 persen terhadap inflasi tahunan.
Adapun komoditas yang memberikan andil terbesar adalah ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, sigaret kretek mesin (SKM), dan bawang merah.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











