Senja di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. (Foto: Inilah.com/Rizki Aslendra)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Aroma tanah basah meruap seiring meredanya rintik hujan, membawa kesunyian yang khidmat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Ruang hening di selatan Jakarta ini, pada Minggu (9/11/2025) sore, kembali menjadi ruang penyimpanan ingatan, doa, dan kisah berlapis pengabdian, menyambut datangnya Hari Pahlawan 10 November. Di bawah langit kelabu yang perlahan disingkap cahaya senja, Kalibata adalah perhentian abadi bagi mereka yang telah menunaikan janji kepada Ibu Pertiwi.
Barisan nisan baru, yang tersusun rapih bak pasukan yang tak pernah lelah menjaga posisinya, berkilau samar diterpa sinar mentari yang malu-malu. Helm-helm perak di ujung makam memantulkan sisa uap air, menjadi simbol diam pengorbanan para prajurit. Di antara nisan, taburan anggrek, mawar, dan bunga kenanga –-wangi yang bercampur aroma tanah basah-– menciptakan suasana haru.
Bendera Merah Putih kecil berkibar pelan, menegaskan ruh patriotisme yang menembus dimensi waktu. Bahkan di sudut, makam Presiden ke-3 RI BJ Habibie dan sang istri, Hasri Ainun Besari, tampak berdampingan, menjadi penanda kesetiaan abadi di tengah pahlawan bangsa.
Penjaga Sunyi dan Kisah Sang Ulama yang Dibuang
Kesunyian yang menyelimuti area makam sedikit terpecah oleh tiupan terompet bernuansa nasionalis dari area monumen utama; sebuah gladi resik jelang upacara esok hari. Di sela-sela kekhidmatan, tampak Bahri (57), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Kementerian Sosial, sibuk menyapu dedaunan dan ranting kering. Berjenggot putih dan berbaju biru, Bahri adalah salah satu penjaga sunyi Kalibata, sosok yang merasa mengemban amanah besar meski tanpa pangkat militer.
Sudah bertahun-tahun Bahri berinteraksi dengan keheningan dan nisan. Ia memiliki pemahaman mendalam tentang makna kepahlawanan yang melampaui senjata.
“Mayoritas masyarakat umum dikira pahlawan kan yang angkat senjata. Padahal, enggak juga. Pahlawan itu ada dua kriteria, pahlawan nasional, non nasional yang mendapatkan penganugrahan Bintang Mahaputera, ataupun mereka berjuang di jalur agama,” tutur Bahri, dengan pandangan yang teduh.
Bahri bercerita tentang ketertarikan khususnya pada sosok Imam Bonjol, pahlawan ulama dari Sumatera Barat. Ia mengisahkan kembali bagaimana Imam Bonjol, meski diasingkan ke Minahasa, tetap teguh menyebarkan ajaran Islam yang membawa pencerahan bagi masyarakat setempat. “Ya memang beliau dulu dibuang karena beliau yakin Allah Maha Tahu… akhirnya masyarakat di sana yang tadinya enggak punya agama… pada ngikut ajaran Nabi Muhammad-lah istilahnya,” kenangnya.
Keprihatinan Sejarah dan Tugas Meneruskan Estafet Bangsa
Di tengah pekerjaannya, Bahri tak dapat menyembunyikan keprihatinan mendalamnya terhadap pendidikan sejarah di Indonesia. Menurutnya, jurang pemisah antara generasi muda dan nilai-nilai patriotisme kian melebar karena minimnya akses pembelajaran sejarah yang otentik.
“Saya pribadi prihatin. Kementerian Pendidikan kan udah enggak ada kurikulum sejarah di sekolahan ya,” katanya dengan nada getir. “Yang lebih prihatin lagi, Kementerian Sosial enggak dikasih anggaran untuk ziarah wisata. Kita minimal ngundang anak sekolah biar tahu sejarah.”
Bahri berkeyakinan, pemahaman akan arti kemerdekaan hanya bisa tertanam kuat jika generasi muda diajak mengunjungi langsung tempat-tempat bersejarah, seperti TMP Kalibata atau Lubang Buaya.
Di jalur setapak yang masih berbekas air hujan, terlihat Bambang Wahyudi (60), mantan pilot Angkatan Udara, berjalan tertatih didampingi putranya, Bima (32). Mereka datang berziarah ke makam mertua Bambang, Kapten Sumarno, perwira intelijen BAKIN. Bagi Bambang, ziarah ini adalah ritual wajib untuk menanamkan rasa hormat pada perjuangan masa lalu kepada anak dan cucunya.
“Generasi muda harus bangga. Apalagi sudah menyangkut Hari Pahlawan ini, di mana mungkin generasi muda-muda kurang mengenal. Ya, semoga dilanjutkan sama generasi berikutnya,” harap Bambang.
Bima, sang putra, menyadari betul kebanggaan itu. “Sosok kakek itu bertanggung jawab mengamankan Indonesia. Kalau ada sesuatu yang menyangkut negara, kakek yang harus memproteksi,” jelasnya.
Menjelang senja merayap, petugas keamanan TMP tetap berjaga, sistem tiga shift 24 jam. Bagi salah seorang petugas, rasa takut yang sempat hadir di awal tugas kini telah berganti pemahaman. Ia percaya, kepahlawanan kini tak hanya milik figur agung yang tertulis di batu nisan, melainkan juga milik “Orang berjuang rela berkorban tanpa pamrih” untuk orang terdekat.
Cahaya terakhir menghilang di balik monumen. Pohon rindang dan cemara bergoyang pelan. Kalibata kembali sunyi, namun ingatan tetap terjaga. Besok, 10 November, ketika bangsa kembali berdiri tegap memperingati Hari Pahlawan, kisah-kisah ini akan kembali dikenang –dalam hening, dalam ziarah, dan dalam pengabdian yang tak pernah usai.














