Ketua Parlemen Rusia (State Duma), Vyacheslav Volodin, melontarkan kritik tajam terhadap tatanan diplomasi global saat ini. Dengan nada lugas, ia menegaskan bahwa praktik pemberian ultimatum dan pengabaian hukum internasional oleh negara-negara tertentu sudah tidak punya tempat dalam dunia multipolar.
Pernyataan keras ini disampaikan Volodin pada Jumat (16/1/2026). Ia menyoroti fenomena beberapa negara yang kini seolah merasa di atas angin dengan mengangkangi aturan dasar internasional demi memaksakan kehendak kepada negara lain.
Masa Depan Global Tanpa Intervensi
Bagi Volodin, tatanan dunia yang adil hanya bisa terwujud jika setiap negara menghormati kedaulatan satu sama lain. Ia menilai praktik diplomasi ‘koboi’ yang mengandalkan tekanan dan ancaman justru menjadi penghambat utama kemajuan global.
“Praktik semacam itu bertentangan dengan prinsip dunia multipolar. Tanpa keberadaannya (dunia multipolar), masa depan dunia tidak mungkin terwujud,” tegas Volodin.
Ia juga mengajak dunia untuk berkaca pada sejarah. Mengingat peringatan 80 tahun sidang perdana Majelis Umum PBB pada 10 Januari lalu, Volodin mengingatkan bahwa platform tersebut lahir dari puing-puing Perang Dunia Kedua untuk menjaga perdamaian lewat dialog, bukan intimidasi.
Putin Desak Penguatan Peran Sentral PBB
Senada dengan Volodin, Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya pada Kamis (15/1) juga menyatakan dukungan penuh Moskow untuk memperkuat peran sentral PBB. Putin menekankan bahwa dunia saat ini sedang sangat membutuhkan kembali prinsip-prinsip dasar Piagam PBB.
Beberapa poin krusial yang ditegaskan Putin meliputi:
- Kesetaraan bernegara: Tidak ada negara yang lebih tinggi dari yang lain.
- Non-intervensi: Larangan mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
- Penyelesaian Sengketa: Dialog sebagai jalan keluar utama, bukan senjata.
Eksistensi Negara di Masa Depan
Volodin menutup pernyataannya dengan sebuah ‘ramalan’ politik. Ia menyebut bahwa hanya negara-negara yang sadar akan pentingnya prinsip keadilan dan kedaulatanlah yang akan tetap eksis di masa depan.
Baginya, upaya membangun tatanan dunia yang adil adalah kerja kolektif yang mendesak. Pesan dari Moskow ini seolah menjadi peringatan bagi negara-negara Barat agar segera meninggalkan gaya diplomasi satu arah dan mulai menghargai keragaman kutub kekuatan dunia yang baru.














