Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). (Foto: Antara/Sulthony Hasanuddin)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Peringatan yang dikeluarkan S&P Global Ratings terkait kenaikan tekanan fiskal, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk ke zona merah. Pada perdagangan Kamis (26/2/2026), IHSG terkapar lagi ke zona merah, karena anjlok 1,04 persen ke posisi 8.235,26.
Sejumlah emiten kakap, harga sahamnya mengalami terjun bebas. Sebut saja, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk yang berkode BUVA mengalami tekanan 14,76 persen, atau setara Rp246, menjadi Rp1.415 per saham.
Dan, PT Bumi Resources Tbk atau BUMI juga ambruk 4,47 persen menjadi Rp258 per saham. Demikian pula saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), anjlok 2,52 persen ke level Rp310 per saham. Nasib sama mendera PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) melemah 1,46 persen, menjadi Rp11.825 per saham.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, nilai perdagangan mencapai Rp28,14 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 56,52 miliar lembar.
Dengan frekuensi menyentuh 3,14 juta kali diperjualbelikan.
Di sisi lain, BEI mencatat sebanyak 146 saham mengalami penguatan. Sementara yang ambruk sebanyak 568 saham. Sisanya, sebanyak 105 saham, harganya stagnan.
Melansir Panin Sekuritas, IHSG ditutup di zona merah, dengan posisi stochastic yang diprediksikan masih mengarah ke bawah. Artinya masih ada kemungkinan mengalami pelemahan lanjutan. “Critical level berada pada Neckline Double Bottom 8.214 sampai dengan titik Low hari ini di 8.140,” sebut Panin Sekuritas.
S&P Ratings
Sebagai lembaga pemeringkat global, peringatan S&P Global Ratings terkait meningkatnya tekanan fiskal khususnya kenaikan pembayaran utang, sangat dahsyat efeknya. Karena memperbesar risiko penurunan terhadap profil kredit Indonesia dan dapat memicu tindakan peringkat negatif.
Pembayaran bunga utang dari pemerintah Indonesia, ‘sangat mungkin’ sudah melampaui ambang batas kunci sebesar 15 persen dari pendapatan pemerintah pada 2025.
Demikian disampaikan Rain Yin, analis sovereign S&P Global Ratings dalam webinar daring mengupas kawasan Asia Pasifik pada Kamis (26/2). “Jika tetap berada di atas ambang tersebut secara berkelanjutan, hal itu dapat mendorong pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat,” kata Yin.
Meski S&P belum mengubah outlook stabil pada peringkat kredit Indonesia di level BBB, penyataan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran yang meluas terhadap posisi fiskal Indonesia.
Awal Februari 2026, Moody’s Ratings telah mengubah outlook peringkat Indonesia di level Baa2, menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Lantaran, Moody’s melihat adanya pelemahan tata kelola yang meningkatkan risiko fiskal.














