Simpanse Jenius ‘Lulusan’ Universitas Kyoto Mati di Usia 49 Tahun

Simpanse Jenius ‘Lulusan’ Universitas Kyoto Mati di Usia 49 Tahun

Dunia sains internasional berduka. Ai, simpanse betina fenomenal yang membuktikan bahwa primata mampu menguasai literasi manusia, dilaporkan mati pada usia 49 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Pusat Studi Asal-Usul Evolusi Perilaku Manusia Universitas Kyoto, Sabtu (10/1/2026).

Pihak lembaga penelitian yang berbasis di Inuyama, Prefektur Aichi ini menyebutkan bahwa Ai mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (9/1/2026) akibat faktor usia lanjut dan kegagalan multi-organ. Kematian simpanse legendaris ini terjadi saat para ahli tengah melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi kesehatannya.

Jejak Literasi: Dari Afrika ke Laboratorium Canggih

Mengutip Kyodo News, Selasa (13/1/2026), Ai lahir di belantara Afrika Barat pada tahun 1976. Ia tiba di Jepang setahun kemudian untuk memulai ‘pendidikan’ formalnya. Sejak usia 18 bulan, Ai sudah diperkenalkan dengan dunia komputer dan berbagai media pembelajaran bahasa.

Kemampuannya sungguh di luar nalar pada masanya. Ai bukan sekadar hewan percobaan; ia adalah subjek penelitian yang menunjukkan kemampuan kognitif luar biasa. Ia mampu mengenali angka dan aksara kanji dengan presisi tinggi. Salah satu demonstrasi ikoniknya adalah kemampuannya menunjuk aksara kanji untuk warna ‘hijau’ sesaat setelah melihat objek berwarna serupa.

Prestasi kognitif Ai ini bahkan sempat mengguncang dunia akademik global hingga profilnya diangkat oleh majalah sains bergengsi Inggris, Nature, pada tahun 1985. Keberhasilan Ai menjadi fondasi penting dalam memahami bagaimana primata non-manusia memproses simbol dan bahasa.

Si Cerdik yang Pernah ‘Membobol’ Kandang

Bukan hanya cerdas secara akademik, Ai juga dikenal memiliki kecerdasan praktis yang membuat para peneliti geleng-geleng kepala. Pada tahun 1989, ia sempat menciptakan kegemparan di pusat penelitian setelah berhasil melarikan diri dari kandangnya bersama simpanse lain.

Bukan dengan merusak jeruji, para peneliti menduga kuat Ai melakukan aksi ‘pelarian’ tersebut dengan menggunakan kunci sungguhan untuk membuka gembok kandangnya. Insiden ini membuktikan bahwa pengamatan Ai terhadap perilaku manusia di sekitarnya sangatlah mendalam.

Warisan Ilmu Pengetahuan

Keajaiban Ai tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pada tahun 2000, ia melahirkan seekor anak jantan bernama Ayumu. Kehadiran Ayumu membawa babak baru bagi sains, di mana para peneliti Universitas Kyoto mulai fokus mendalami fenomena alih pengetahuan dan transmisi budaya antara induk dan anak simpanse.

Hingga akhir hayatnya, Ai tetap menjadi ikon penting di Pusat Studi yang sebelumnya bernama Primate Research Institute tersebut. Kematiannya meninggalkan lubang besar dalam studi perilaku manusia dan primata, namun data serta pengetahuan yang ia berikan selama hampir setengah abad akan tetap hidup dalam literatur sains dunia.
 

Visited 4 times, 1 visit(s) today