Sora 2 OpenAI Tuai Kontroversi, Sam Altman: Semoga Nintendo tak Menuntut Kami

Sora 2 OpenAI Tuai Kontroversi, Sam Altman: Semoga Nintendo tak Menuntut Kami

Setelah sukses mendominasi App Store Amerika Serikat, aplikasi video berbasis kecerdasan buatan (AI) Sora 2 milik OpenAI kini menuai sorotan karena banjir video buatan pengguna yang menampilkan karakter populer dari berbagai waralaba terkenal—mulai dari SpongeBob SquarePants, Pokémon, hingga The Simpsons.

Peluncuran Sora 2 dan aplikasinya, Sora App, memungkinkan pengguna membuat video pendek berbasis teks (prompt) mirip format TikTok. Aplikasi ini hanya tersedia di perangkat iOS dan bersifat invite-only atau melalui kode undangan. Sejak dirilis awal pekan lalu, Sora 2 langsung menduduki posisi puncak App Store Amerika Serikat.

Namun, di balik euforia tersebut, muncul kekhawatiran besar: pelanggaran hak cipta massal.

Banjir Video AI Karakter Populer

Menurut laporan CNBC (4/10), banyak pengguna mengunggah video hasil generasi AI yang menampilkan tokoh-tokoh animasi terkenal tanpa izin hak cipta. Dalam salah satu video viral, CEO OpenAI Sam Altman tampak berdiri di tengah ladang bersama karakter Pokémon dan berkata, “I hope Nintendo doesn’t sue us.” (Saya harap Nintendo tidak menuntut kami).

Video lain memperlihatkan Ronald McDonald melarikan diri dari polisi menggunakan mobil berbentuk burger, hingga karakter Patrick Star dari SpongeBob SquarePants ikut tampil dalam klip parodi.

CNBC mengonfirmasi bahwa mereka dapat membuat video serupa menggunakan karakter dari South Park, Despicable Me, dan bahkan logo merek seperti Starbucks.

Ancaman Gugatan Hak Cipta

Para pakar hukum menilai Sora 2 berpotensi menghadapi gelombang gugatan hukum.

“Banyak video yang dihasilkan akan melanggar hak cipta,” kata Mark Lemley, profesor hukum di Stanford Law School. “OpenAI membuka dirinya terhadap banyak tuntutan hukum dengan mengizinkan konten seperti ini.”

Perusahaan seperti McDonald’s dan pemegang hak cipta lainnya menolak berkomentar atas temuan ini. Namun, sejarah menunjukkan bahwa raksasa media seperti Disney dan Universal telah menggugat perusahaan AI lain seperti Midjourney dan Character.AI karena menggunakan karakter berhak cipta tanpa izin.

“Karakter adalah ciptaan yang dilindungi hukum. Jika perusahaan kehilangan kendali atas bagaimana karakter mereka digambarkan atau berbicara dalam video AI, itu akan menjadi masalah besar,” tambah Lemley.

OpenAI Klaim Siap Tindak Pelanggaran

Menanggapi isu tersebut, Varun Shetty, Head of Media Partnerships OpenAI, mengatakan perusahaan akan bekerja sama dengan pemegang hak untuk memblokir karakter tertentu dari Sora 2 jika diminta.

“Orang ingin berinteraksi dengan imajinasi mereka dan karakter yang mereka sukai. Kami akan bekerja dengan pemegang hak cipta untuk menanggapi permintaan takedown,” ujarnya kepada CNBC.

OpenAI juga menyediakan formulir “Copyright Disputes” agar pemilik konten bisa melaporkan pelanggaran, serta sistem report langsung di dalam aplikasi.

Kontrol Likeness dan “Cameo” AI

Selain perlindungan hak cipta, OpenAI menambahkan fitur keamanan baru di Sora 2. Pengguna bisa membuat “cameo” digital dari wajah mereka sendiri dan menentukan siapa yang boleh menggunakannya. Fitur ini mencegah pengguna lain membuat video dengan meniru wajah atau suara orang tanpa izin.

Dalam unggahan blog Jumat malam, Sam Altman mengatakan OpenAI akan memberikan kontrol lebih granular bagi pemegang hak cipta.

“Kami ingin menerapkan standar yang sama untuk semua pihak, dan membiarkan pemegang hak menentukan langkah yang tepat,” tulisnya.

Sora 2 dan Perjudian Besar OpenAI

Peluncuran Sora 2 disebut sebagai “perjudian besar” bagi OpenAI. Di satu sisi, teknologi ini membuka era baru video generatif yang sangat realistis dan mudah digunakan; di sisi lain, ia berpotensi menabrak batas hukum hak cipta global.

Sebagaimana disampaikan Lemley, “Anda bisa bayangkan kenapa Taylor Swift tidak ingin ada video AI dirinya mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia katakan.”

Dengan semakin banyak pengguna yang bereksperimen di Sora 2, dunia tengah menyaksikan pertarungan baru antara kreativitas AI dan perlindungan kekayaan intelektual.

Visited 5 times, 1 visit(s) today