Spirit Ramadan di Big Apple: Kala Wali Kota Muslim Pertama New York Menahan Dahaga

Spirit Ramadan di Big Apple: Kala Wali Kota Muslim Pertama New York Menahan Dahaga

Ada pemandangan berbeda di New York City (NYC) tahun ini. Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum bersejarah bagi kota metropolitan paling sibuk di dunia tersebut. Zohran Mamdani, sosok yang kini memegang tongkat komando sebagai Wali Kota Muslim pertama di New York, menyambut bulan suci dengan penuh antusiasme sekaligus canda yang membumi.

Saat ditanya awak media mengenai perasaannya menjalani hari pertama puasa sebagai orang nomor satu di NYC, Mamdani menjawab dengan seloroh khas warga The Big Apple. “Saat ini, saya merasa haus,” ujarnya sembari tersenyum, sebagaimana dikutip dari CBS, Kamis (19/2/2026).

Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

Bagi Mamdani, Ramadan bukan sekadar ritual fisik menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga magrib. Ia menyebut bulan ini sebagai waktu favoritnya sepanjang tahun karena esensi refleksi dan solidaritas yang terkandung di dalamnya.

“Sering kali Ramadan hanya dipahami sebagai waktu tidak makan atau minum. Padahal, motor penggerak kita sepanjang hari adalah kesempatan untuk merenung dan memperbaiki diri,” kata Mamdani.

Sepanjang bulan suci ini, sang Wali Kota menjadwalkan agenda padat untuk blusukan, berinteraksi langsung dengan komunitas Muslim melalui acara buka puasa bersama dan berbagai kegiatan pelayanan publik. Ia ingin hadir di tengah warganya, baik mereka yang bangun pagi untuk sahur sebelum bekerja, maupun mereka yang bekerja shift malam dan berbuka hanya dengan sebutir kurma.

post-cover
Ratusan warga Muslim New York setiap tahunnya menggelar ibadah salat Tarawih pertama di kawasan bisnis Times Square. (Foto: Associated 
Press/Yuki Iwamura)

Simbol Penting bagi Satu Juta Muslim

Kehadiran Mamdani di kursi balai kota membawa angin segar bagi lebih dari satu juta warga Muslim di New York. Direktur Islamic Cultural Center of New York (ICCNY), Yahaya Abubakar, menegaskan bahwa memiliki wali kota Muslim adalah pencapaian yang sangat krusial bagi representasi komunitas.

“Memiliki wali kota Muslim di New York bukanlah hal yang umum. Ini sangat, sangat penting bagi kami,” tegas Abubakar.

ICCNY yang berlokasi di Upper East Side sendiri telah bersiap menampung sekitar 1.000 jemaah untuk salat tarawih dan kegiatan ibadah lainnya. Menurut Abubakar, perayaan di fasilitas tersebut dilakukan secara tradisional dengan pemantauan hilal sesuai kalender lunar Islam.

Fokus Menjadi Versi Terbaik

Makna Ramadan tahun ini juga diamini oleh anggota Dewan Kota New York, Yusef Salaam. Sebagai sesama Muslim di jajaran pemerintahan, Salaam memandang puasa sebagai perjalanan spiritual untuk bertransformasi. “Setiap tahun terasa lebih dalam karena kita benar-benar fokus menjadi versi terbaik dari diri sendiri,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Imam ICCNY Chernor Sa’ad Jalloh mengingatkan bahwa esensi keberhasilan seorang Muslim bukan diukur dari kemenangan politik atau materi. “Kesempatan sesungguhnya adalah ketika hubungan kita dengan Tuhan berada dalam kondisi terbaik,” ucapnya.

Data dari Institute for Social Policy and Understanding mencatat bahwa lebih dari 20 persen populasi Muslim di Amerika Serikat bermukim di New York. Dengan Mamdani di puncak pimpinan, Ramadan kali ini bukan sekadar ibadah rutin, melainkan simbol inklusivitas di jantung Amerika.

Visited 10 times, 1 visit(s) today