Setelah terbongkar memalsukan data kelahiran leluhur tujuh pemain naturalisasi, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) tetap bersikeras menolak tuduhan FIFA.
Bukannya mengakui kesalahan, FAM justru mengajukan banding resmi dan menyebut keputusan badan sepak bola dunia itu “tidak adil dan tanpa bukti kuat”.
Langkah ini diambil hanya sehari setelah FIFA merilis dokumen investigasi resmi bertajuk Football Association of Malaysia – Disciplinary Decision tertanggal 6 Oktober 2025.
Dalam laporan tersebut, FIFA menyatakan dengan tegas bahwa FAM memalsukan tempat lahir kakek dan nenek tujuh pemain naturalisasi Malaysia, agar mereka memenuhi syarat bermain untuk tim nasional.
FIFA Beberkan Bukti Pemalsuan
Dokumen hasil penyelidikan FIFA menunjukkan perbedaan mencolok antara data asli dan data yang diajukan oleh FAM. Nama-nama seperti Facundo Garcés, Rodrigo Holgado, dan Joao Figueiredo disebut menggunakan dokumen leluhur yang diubah.
Contohnya, FAM mengklaim kakek Garcés lahir di Malacca, Malaysia, padahal hasil verifikasi FIFA menunjukkan Santa Cruz de la Palma, Spanyol. Begitu juga dengan Holgado, yang diklaim berdarah George Town, padahal faktanya berasal dari Caseros, Buenos Aires, Argentina.
Komite Disiplin FIFA menyimpulkan bahwa dokumen tersebut “telah dimanipulasi secara sadar untuk menghindari regulasi eligibility FIFA.”
Hasilnya, FAM dijatuhi denda CHF 350.000 (Rp7,3 miliar), sementara tujuh pemainnya diskors selama 12 bulan dari seluruh aktivitas sepak bola dan dikenai denda individu CHF 2.000 (Rp43 juta).
FAM Ngotot Tak Bersalah
Namun, FAM justru menuding keputusan FIFA terlalu sepihak. Dalam pernyataan resminya pada Selasa (7/10/2025), FAM menyebut tuduhan pemalsuan dokumen itu “tidak akurat, tidak adil, dan tidak disertai bukti konkret.”
“FAM menegaskan bahwa seluruh dokumen dan data pemain disiapkan, diverifikasi, dan diserahkan sesuai prosedur resmi. Tidak ada bukti bahwa para pemain memperoleh dokumen palsu atau berusaha menghindari regulasi,” tulis FAM.
FAM juga berdalih bahwa para pemain bertindak “dengan itikad baik” dan sepenuhnya bergantung pada proses administratif yang dijalankan oleh federasi.
Mereka berjanji akan memanfaatkan seluruh jalur hukum, termasuk mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS) di Swiss jika keputusan FIFA tidak berubah.
FAM Berlindung di Balik Hukum Malaysia
Dalam pernyataan yang sama, FAM juga menyinggung alasan hukum untuk menolak membuka data lengkap yang diminta FIFA. Federasi berdalih bahwa beberapa dokumen yang digunakan dalam proses naturalisasi termasuk informasi rahasia negara, mengacu pada Official Secrets Act 1972 dan Passport Act 1966.
“FAM secara hukum terikat untuk menjaga kerahasiaan dokumen tersebut. Semua informasi hanya akan dibagikan kepada FIFA untuk kepentingan penyelidikan,” tulis FAM.
Reputasi Sepak Bola Malaysia di Titik Terendah
Langkah defensif FAM ini justru memperburuk citra Malaysia di mata publik Asia Tenggara. Setelah sebelumnya situs resmi federasi diretas dan diserbu pesan ejekan seperti “Main bola atau bikin KTP palsu?”, kini publik menilai FAM tidak hanya gagal secara administrasi, tapi juga kehilangan integritas.
Sejumlah pengamat sepak bola ASEAN menyebut Malaysia menghadapi “krisis kepercayaan” serius, baik di tingkat regional maupun internasional. Apalagi, negara pesaing seperti Vietnam disebut sebagai pihak yang pertama kali melaporkan dugaan pelanggaran ke FIFA.
Dengan semua bukti di tangan FIFA, banding FAM tampak seperti upaya mempertahankan muka di tengah skandal terbesar dalam sejarah sepak bola Malaysia modern.













