Di tengah hiruk pikuk industri otomotif global yang berlomba menuju elektrifikasi penuh, pabrikan supercar legendaris asal Italia, Lamborghini, secara resmi mengambil langkah strategis yang berbeda. Mereka memutuskan untuk tidak terburu-buru masuk ke pasar mobil listrik murni (Electric Vehicle/EV). Sebaliknya, Raging Bull kini memilih fokus mengembangkan dan mengandalkan teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sebagai solusi jangka menengahnya.
Keputusan mengejutkan ini diungkapkan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Lamborghini Stephan Winkelmann, dalam wawancara dengan Auto Express. Menurut Winkelmann, perkembangan kendaraan listrik belakangan ini tidak secepat yang diprediksi beberapa tahun lalu.
“Permintaan mobil listrik stagnan. Beberapa waktu lalu, adopsinya terlihat menjanjikan, tetapi sekarang kurva pertumbuhannya mulai melandai,” ucap Winkelmann, dikutip Minggu (12/10/2025).
Kondisi pasar yang melambat ini memaksa Lamborghini harus realistis. Winkelmann menegaskan bahwa penyesuaian arah bisnis mutlak diperlukan agar merek mewah tersebut tetap relevan dengan keinginan dan kebutuhan konsumen di segmen supercar premium.
Nasib Lanzador dan Urus Baru di Tangan PHEV
Salah satu proyek yang langsung terdampak oleh perubahan strategi ini adalah Lamborghini Lanzador. Model konsep yang awalnya diposisikan sebagai mobil listrik murni pertama mereka kini tengah ditinjau ulang. Pabrikan sedang mempertimbangkan keras untuk memproduksi Lanzador sebagai model PHEV, dengan putusan final yang dikabarkan akan diambil pada tahun ini.
Jalur PHEV juga akan menjadi sistem penggerak utama bagi SUV Urus generasi terbaru, yang dijadwalkan meluncur sebelum akhir dekade ini. Lamborghini juga menegaskan bahwa mesin V12 legendaris –sebuah identitas Raging Bull— akan tetap menjadi bagian dari merek hingga setelah tahun 2030.
Winkelmann menjelaskan bahwa PHEV menawarkan keseimbangan ideal yang dibutuhkan sebuah supercar: perpaduan antara performa buas khas Lamborghini dengan efisiensi emisi karbon yang makin dituntut regulasi global.
“Kami harus bergerak secara analitis mempertimbangkan berat tambahan, biaya, dan kompleksitas sistem hybrid, sekaligus memastikan pengalaman berkendara yang tetap emosional,” ujar Winkelmann, menekankan bahwa feel saat mengemudi tidak boleh hilang hanya demi elektrifikasi.
Menjaga Emosi Merek dan Komunitas Global
Lebih dari sekadar faktor teknis dan efisiensi, keputusan ini juga erat kaitannya dengan citra dan aspirasi merek. Lamborghini menyadari bahwa banyak penggemarnya di seluruh dunia –bahkan yang tidak mampu membeli mobilnya– adalah bagian penting dari komunitas global merek tersebut.
“Kami harus menjaga semangat merek bagi semua penggemar, bukan hanya pembelinya,” ucap Winkelmann.
Strategi PHEV dianggap menjadi jembatan yang paling aman untuk beralih ke masa depan tanpa mengorbankan identitas performa yang sudah mendarah daging.
Meski perubahan strategi ini diprediksi akan berpengaruh terhadap struktur biaya model baru Lamborghini, termasuk potensi harga jual yang berbeda, hingga kini belum ada informasi resmi mengenai kisaran harga model PHEV yang akan dirilis. Yang jelas, Lamborghini telah menetapkan jalannya sendiri, menolak terburu-buru mengikuti arus EV global.














