Tren Suhu Membara: Tahun 2025 Hampir Sejajar Rekor Panas Global

Tren Suhu Membara: Tahun 2025 Hampir Sejajar Rekor Panas Global

Ikhsan Medium.jpeg

Sabtu, 8 November 2025 – 02:32 WIB

Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) Uni Eropa memastikan 2025 akan menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas. (Foto: deccanherald.com/iStock)

Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) Uni Eropa memastikan 2025 akan menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas. (Foto: deccanherald.com/iStock)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dunia kembali dihadapkan pada data iklim yang mengkhawatirkan. Tahun 2025 hampir dapat dipastikan akan menempati posisi sebagai salah satu dari tiga tahun terhangat sepanjang sejarah sejak pencatatan suhu global dimulai.

Kepastian ini datang dari data terbaru yang dirilis oleh Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) Uni Eropa (UE) pada Kamis (6/11/2025). Capaian ini melanjutkan tren suhu ekstrem yang telah terjadi selama periode 2023 dan 2024, yang masing-masing tercatat sebagai tahun terhangat pertama dan kedua.

Menurut C3S, tahun 2025 kemungkinan akan sejajar dengan tahun 2023, dan hanya sedikit di bawah rekor tertinggi yang dipegang tahun 2024.

Kepala Strategi Iklim C3S, Samantha Burgess, memberikan peringatan tegas mengenai anomali yang terjadi. “Meskipun 2025 mungkin bukan tahun terhangat, namun, tahun ini hampir pasti akan masuk ke dalam tiga besar,” katanya.

Burgess menyoroti konsistensi kenaikan suhu yang mengkhawatirkan: “Tiga tahun terakhir mencatat suhu yang luar biasa tinggi, dan rata-rata untuk periode 2023-2025 kemungkinan akan melebihi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, untuk pertama kalinya dalam periode tiga tahun.”

Ambang batas 1,5 derajat Celsius ini merupakan batas kritis yang coba dihindari oleh Perjanjian Paris.

Anomali Oktober dan Suhu Permukaan Laut Global

Data C3S menunjukkan bahwa Oktober 2025 menjadi bulan terpanas ketiga secara global dalam catatan, setelah Oktober 2023 dan Oktober 2024. Suhu udara permukaan global rata-rata pada bulan tersebut mencapai 15,14 derajat Celsius, sebuah angka yang 0,70 derajat di atas rata-rata periode 1991-2020. Lebih mengkhawatirkan, angka ini 1,55 derajat Celsiusdi atas tingkat praindustri (1850-1900).

Secara keseluruhan, rata-rata 12 bulan, terhitung dari November 2024 hingga Oktober 2025, berada pada angka 1,50 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, yang menggarisbawahi kegagalan dunia untuk menahan pemanasan global.

Tak hanya udara, suhu permukaan laut global pada Oktober tahun ini juga tetap mendekati rekor tertinggi, dengan rata-rata 20,54 derajat Celsius di wilayah antara 60erajat lintang utara hingga 60 derajat lintang selatan. Suhu ini menempati peringkat ketiga tertinggi dalam catatan.

Transisi La Niña dan Es Kutub yang Menyusut

C3S juga mencatat adanya pergeseran pola iklim di Pasifik. Walaupun Pasifik Utara mencatat tingkat kehangatan yang ekstrem, wilayah tengah dan timur Pasifik ekuatorial menunjukkan kondisi yang lebih dingin. Fenomena ini mengindikasikan adanya transisi menuju kondisi La Niña yang lemah.

Namun, di Kutub, krisis es terus berlanjut tanpa henti. Di Arktika, luas es laut pada Oktober adalah 12 persen di bawah rata-rata, menempati peringkat kedelapan terendah untuk bulan tersebut. Sedangkan di Antarktika, es laut mencatat luas es terendah ketiga untuk bulan Oktober, yakni 6 persen di bawah rata-rata.

Data ini secara kolektif mengirimkan sinyal bahaya yang jelas: tren pemanasan global tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, dan ancaman terhadap ekosistem global kian nyata.
 

Topik
Komentar

Visited 7 times, 1 visit(s) today