Tunggu Tahun Depan, BI Optimistis Ekonomi Meroket 6 Persen

Tunggu Tahun Depan, BI Optimistis Ekonomi Meroket 6 Persen

Clara Medium.jpeg

Jumat, 28 Agustus 2026 – 05:09 WIB

Deputi Gubernur BI, Aida S Budiman saat Rapat Kerja (Raker) dengan Banggar DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (Foto: ANTARA/Bayu Saputra).

Deputi Gubernur BI, Aida S Budiman saat Rapat Kerja (Raker) dengan Banggar DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (Foto: ANTARA/Bayu Saputra).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Paling lama tahun depan, perekonomian nasional bakal melantai ke level 6 persen. Asalkan 3 syarat ini terpenuhi. Seperti tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Seperti dikemukakan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman yang sebentar lagi naik pangkat menjadi Deputi Gubernur Senior BI, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027, diperkirakan berada di kisaran 5,1-5,9 persen.

“Mendukung tema strategi ekonomi dan fiskal 2027, tumbuh lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat. Kami melihat adanya kemungkinan untuk bisa PDB (Produk Domestik Bruto) menjadi lebih tinggi lagi, atau kalau dari proyeksi kami yang sekarang 5,9 persen, menuju 6 persen,” kata Aida saat Rapat Kerja (Raker) dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Aida menjelaskan, salah satu asumsi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi adalah lebih baiknya prospek ekonomi global. Jika prospek ekonomi global membaik, maka diharapkan dapat meningkatkan permintaan ekspor Indonesia termasuk aliran modal masuk khususnya dari penanaman modal asing dan juga portofolio.

Selain itu, asumsi lain yakni peningkatan investasi dengan akselerasi proyek strategis nasional, serta realisasi optimalisasi penerimaan devisa hasil ekspor (DHE), termasuk kenaikan inflows dari pertumbuhan ekonomi, dan berbagai macam langkah yang dilakukan oleh pemerintah.

“Terakhir, Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas dan ketahanan nasional serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Aida.

Masih Tingginya Risiko Global

Secara umum, Aida menjelaskan bahwa prospek perekonomian global masih banyak diwarnai oleh risiko yang tetap tinggi, terutama dari geopolitik perang Timur Tengah yang memperburuk gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara.

“Dengan perkembangan tersebut, maka prospek perekonomian di 2027 kami perkirakan membaik sedikit menjadi 3,3 persen dengan harapan menurunnya tensi geopolitik Timur Tengah. Inflasi global diperkirakan berlanjut sehingga mendorong kebijakan moneter global lebih ketat,” kata Aida.

Indeks Dolar AS dan FFR

Ia menambahkan, suku bunga Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR), saat ini, dipertahankan di level 3,5-3,75 persen. Terdapat kemungkinan naik di triwulan IV-2026, atau bertahan pada 2027. Imbal hasil US Treasury, saat ini, masih cukup tinggi. Termasuk indeks dolar AS terhadap berbagai macam mata uang.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik, dan perlu terus didorong untuk memperkuat momentum pertumbuhan,” ujar Aida.

Perkembangan terkini di triwulan III-2026, terutama untuk indeks ekspektasi penghasilan dan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang sempat menurun, kini pulih kembali terutama untuk pesanan ekspor baru.

Aida menegaskan, bauran kebijakan BI yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah, perlu terus diarahkan untuk memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bauran kebijakan itu, ditempuh melalui pelonggaran likuiditas moneter, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan bagi dunia usaha, serta digitalisasi sistem pembayaran untuk akselerasi ekonomi keuangan digital khususnya sektor UMKM dan ritel.

Tarik Modal Masuk

Ia mengatakan, BI juga memiliki kebijakan dengan fokus utama memberikan insentif, untuk menarik aliran modal masuk. Sehingga bisa menarik aliran modal tanpa harus menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate, maupun SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), menjaga kecukupan likuiditas, dan melakukan diversifikasi penggunaan mata uang.

Dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, Aida menambahkan bahwa bank sentral menjalankan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang akan didayagunakan tidak saja untuk pembiayaan perbankan, tetapi juga untuk pengembangan pasar keuangan sehingga bisa membantu mendistribusikan insentif yang saat ini terkonsentrasi pada beberapa bank tertentu.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 2 times, 2 visit(s) today