Utopia Pembelajaran Menyenangkan: Realita atau Imajinasi?

Utopia Pembelajaran Menyenangkan: Realita atau Imajinasi?

WhatsApp Image 2025-02-18 at 10.58.38_532b6088.jpg

Senin, 27 Oktober 2025 – 06:00 WIB

Ilustrasi. (Desain: inilah.com/inu)

Ilustrasi. (Desain: inilah.com/inu)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Imam Syafii pernah berkata, “Kalau kamu tidak merasa lelahnya belajar, kamu akan merasakan pahitnya kebodohan.” Kutipan ini begitu relevan dalam realitas pendidikan di Indonesia, sekaligus menjadi pembuka diskusi soal mitos “pembelajaran menyenangkan” yang belakangan makin diglorifikasi. Apakah pendidikan harus selalu menyenangkan? Atau justru, seperti pengalaman banyak anak negeri, pendidikan adalah perjalanan panjang penuh lelah, air mata, dan ketangguhan mental?

Saya termasuk yang pernah mengalami getirnya menuntut ilmu. Usia 14 tahun, harus merantau dan ngekos di kecamatan karena kampung saya terpencil dan tak ada SMP negeri. Tidak ada uang jajan, harus bekerja sepulang sekolah, menghadapi stigma anak kampung, semua adalah bagian dari pembelajaran. Sering saya ingin berhenti, mengirim surat ke orang tua agar diizinkan pulang saja. 

Jawaban ayah sederhana: “Kalau kau tidak sekolah, mau jadi apa? Bersabarlah.” Pilihan untuk bertahan itu ternyata membawa saya menembus jenjang S2 lewat beasiswa LPDP. Namun pelajaran terbesarnya justru dari proses jatuh-bangun itu: belajar memang tak selalu menyenangkan.

Kini, konsep pembelajaran menyenangkan menjadi mantra dalam dunia pendidikan. Ada narasi bahwa siswa tak boleh terbebani, tak boleh ada tekanan, PR, atau hukuman. Guru dituntut sekreatif mungkin, kelas harus seperti panggung hiburan. Namun, benarkah realitas pendidikan yang keras bisa dihapus hanya dengan jargon “menyenangkan”?

Pengalaman saya dan banyak generasi sebelumnya justru sebaliknya. Di sekolah dasar, pernah dihukum ketika gagal menghafal perkalian. Saya protes ke orang tua, berharap dibela, justru dimarahi. Dari situ saya belajar untuk tak mudah mengeluh. Proses pendidikan adalah pertemuan antara tekanan, rasa capek, bosan, bahkan putus asa. Apakah salah? Tidak. Justru di sanalah karakter ditempa.

Definisi “Menyenangkan” Perlu Dikritisi

Definisi pembelajaran menyenangkan sering kali disalahartikan seolah-olah belajar harus seperti bermain, tanpa tantangan dan tekanan. Padahal, belajar sejatinya adalah persiapan menghadapi dunia nyata yang jauh lebih keras dan kompetitif. Lulusan sekolah dan kampus kini dihadapkan pada persaingan global yang tidak mengenal kompromi. Apakah mereka cukup disiapkan jika hanya diajarkan “menyenangkan” saja?

Banyak ilmuwan besar lahir dari proses belajar yang melelahkan, penuh tekanan, dan kerja keras. Hampir mustahil membayangkan kemajuan peradaban tanpa proses jatuh-bangun di ruang belajar. Bukan berarti kelas harus menjadi ruang siksaan, tetapi meniadakan tekanan sama saja menutup kesempatan siswa untuk tumbuh menjadi pribadi tahan banting.

Ujian dan Tekanan: Bagian dari Proses

Pembelajaran ideal bukanlah sekadar menyenangkan secara permukaan, tetapi menyenangi tantangan dan proses. Kegagalan, teguran, tugas berat, bahkan hukuman yang proporsional adalah bagian dari pendidikan karakter. Dunia nyata tidak memberi ruang untuk keluhan tanpa solusi. Lulus seleksi ASN saja, misalnya, kini sangat sulit. Begitu juga kompetisi kerja di sektor lain. Lulusan harus dibekali mental petarung, bukan mental “manja”.

Sayangnya, sistem pendidikan saat ini sering menempatkan guru di posisi serba salah. Guru sedikit tegas atau memberi PR, bisa jadi diadukan ke orang tua atau bahkan dilaporkan ke lembaga tertentu. Pola pikir ini berbahaya bagi masa depan bangsa.

Pendidikan: Antara Kesenangan dan Ketangguhan

Maka, perlu ada perubahan paradigma. Menyenangkan dalam pembelajaran bukan berarti menghapus tekanan, tapi mengajarkan bagaimana menikmati proses, bahkan ketika itu berat. Pembelajaran yang ideal adalah yang mempersiapkan siswa untuk dunia nyata, bukan sekadar membangun imajinasi palsu tentang dunia yang selalu ramah.

Pendidikan adalah pertaruhan antara kenyamanan hari ini dan kesuksesan esok hari. Guru dan sistem pendidikan harus jujur: dunia semakin kompetitif dan hanya mereka yang terbiasa berjuang yang akan bertahan.

Jadi, mari kritisi kembali utopia “pembelajaran menyenangkan”. Yang kita butuhkan adalah generasi pembelajar yang tahan banting, siap menghadapi kerasnya hidup, dan mampu menemukan kebahagiaan dalam proses jatuh bangun meraih ilmu. Sebab, sebagaimana pesan Imam Syafii: “Lelahnya belajar jauh lebih baik ketimbang pahitnya kebodohan.”

Topik
Komentar

Visited 5 times, 1 visit(s) today