Vietnam Semakin Tinggalkan Indonesia, Pendiri Indef: Manufaktur Semakin Hancur

Vietnam Semakin Tinggalkan Indonesia, Pendiri Indef: Manufaktur Semakin Hancur

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 5 Juli 2026 – 14:31 WIB

Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini. (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Jangan senang dulu dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang menembus level 5,61 persen. Potret industri manufaktur semakin memprihatinkan, karena PMI (Purchasing Managers Index) anjlok hingga di bawah 50.

Pendiri Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menegaskan, data PMI yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia anjlok ke level di 46,9 pada Juni 2026.

Jika PMI berada di bawah angka 50, artinya manufaktur tidak ada yang ekspansi. Dengan kata lain, sektor bisnis atau manufaktur sedang mengalami kontraksi atau penurunan aktivitas.

“Angka PMI ini merupakan indikasi industri kita mengalami sakit lama dan sekarang masuk zona merah yang berarti bahaya. Karena berada di bawah 50,” kata Didik di Jakarta, Minggu (5/7/2026).  

Dia lantas membandingkan dengan Vietnam, yang pertumbuhan ekonominya mencapai 8 persen. Sukses negeri berjuluk ‘Naga Biru’ itu,   karena sektor industrinya berkembang pesat dalam 2-3 dekade terakhir.

“Vietnam membuat kebijakan ramah investasi dan membangun sektor industri dengan gencar. Alhasil, Bank Dunia menempatkan Vietnam sebagai negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income country),” tandasnya.  

Saat ini, lanjut pria berdarah Madura ini, Vietnam dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, memiliki pendapatan nasional bruto atau Gross National Income (GNI) per kapita, sekitar 
US$4.970.  Melampaui ambang batas US$4.636 sebagai negara berpendapatan menengah atas.  

Harus diakui, lanjut Didik, sektor industri di Indonesia sudah lama mengalami ‘mati suri’. Karena tidak adanya pijakan yang jelas. Kini, tantangan dunia usaha semakin kompleks karena faktor geopolitik global dan faktor domestik.

“Dunia usaha tidak akan berinvestasi selama tidak ada kebijakan yang jelas, hambatan birokrasi yang ruwet dan insentif yang tidak memadai untuk menjadikan industri tumbuh pesat,” imbuhnya.  

Di sisi lain, lanjutnya, daya beli masyarakat yang menurun membuat sektor industri mengerut, dan ekonomi secara keseluruhan tidak cukup menyediakan kesempatan kerja produktif.  

“Ini seperti lingkaran setan, tapi ada solusinya. Lakukan transformasi struktur industri, deregulasi dan debirokratisasi agar dunia usaha utamanya, industri berkembang,” ungkapnya.  

Didik pun menyebut era 1980 dan 1990, ekonomi bisa bertumbuh di level tinggi yakni 7-8 persen. Karena, pemerintahan saat itu berhasil membangun pertumbuhan ekonomi dari sektor industri manufaktur.

“Saat itu, sektor industri bisa tumbuh 10-12 persen. Alhasil, ekonomi moncer 7-8 persen. Sayangnya, kebijakan seperti itu, tidak atau belum mampu dijalankan kembali pada saat ini,” bebernya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Visited 3 times, 1 visit(s) today