Sejumlah pelajar dan mahasiswa menikmati jaringan (daring) di Desa Cangai, Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh. (Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas/aww).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Marwan O Baasir menyebut, tantangan yang dihadapi kepala daerah dalam membangun konektivitas di desa-desa di Indonesia.
“Jadi, tantangannya juga Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Komunikasi dan Digital perlu melihat, ini nanti akan mekar lagi enggak? Karena memang desa-desa ini dinamis begitu ya,” kata Marwan di Bandung, Jawa Barat (Jabar), dikutip Rabu (3/12/2025)
Di sisi lain, Marwan menyebut, pemekaran desa maupun daerah berpengaruh pada kebutuhan infrastruktur pendukung pembangunan jaringan seluler, termasuk di antaranya jaringan listrik.
“Kita harus hitung betul skala ekonomisnya. Apakah secara skala ekonomis dia bisa satu operator, dua operator, tiga operator. Umumnya kalau area-area terdepan, terluar dan tertinggal, biasanya hanya satu operator,” kata Marwan.
Sementara, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud menyebut, masa depan pembangunan Kaltim sangat ditentukan konektivitas. Baik konektivitas offline berupa akses jalan dan jembatan, maupun konektivitas online berupa internet yang merata hingga pelosok desa.
Kata dia, internet bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan infrastruktur dasar yang menentukan kemajuan daerah. “Internet itu jalan tol digital. Tanpa konektivitas, daerah tidak akan maju. Digitalisasi harus dimulai dari desa,” kata Gubernur Rudy saat menerima jajaran Telkom Regional Kalimantan yang dipimpin GM Witel Kaltimtara, I Nyoman Hardiana Artha, Senin (1/12/2025).
Saat ini, kata dia, Kaltim memiliki 841 desa, beberapa desa di antaranya masih belum mendapatkan aliran listrik memadai. Kondisi geografis yang luas, 127 ribu kilometer-persegi akses offline dan online sama-sama krusial.
Dia menyoroti wilayah perbatasan seperti Long Apari di Mahakam Ulu, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Kaltara, Kalbar, dan Kalteng. “Wilayah perbatasan harus mendapat perhatian serius. Jangan sampai jalan offline tidak ada, jalan online juga tidak ada,” ujarnya.
Gubernur Rudy menilai, Telkom sebagai mitra strategis dalam membangun desa-desa digital. Perlu didukung langkah Telkom memperluas digitalisasi ke sektor perkebunan, mengingat Kaltim memiliki 3 juta hektare lahan sawit, dengan 1,5 juta hektare telah beroperasi dan menyerap 314 ribu pekerja.
“Akses digital di perkebunan harus diperkuat. Telkom harus menyiapkan layanan yang kompetitif. Jangan sampai nanti diambil alih Elon Musk,” kata Gubernur Rudy.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, Telkom, industri, serta pemangku kepentingan lain untuk menghadirkan layanan internet terjangkau hingga pedalaman dan pesisir.
Sebelumnya, GM Witel Kaltimtara I Nyoman Hardiana Artha melaporkan bahwa Telkom telah menyediakan sekitar 2.200 titik WiFi gratis di Kaltim, termasuk 900 titik di Berau, dengan cakupan 47–50 persen jaringan fiber optic.
Jaringan tersebut ditopang oleh 5.500 BTS Telkomsel dari total 17.400 BTS di Pulau Kalimantan. Ke depan, Telkom memperluas fokus digitalisasi perkebunan seiring pelaksanaan Borneo Digital Summit ke-3 dan mendorong sinergi pentahelix untuk percepatan transformasi digital.











