Aktivitas bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (15/1/2025). (Foto: ANTARA/Dhemas Reviyanto/agr).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional (Bapanas), Nita Yulianis melaporkan stok beras di Gudang Perum Bulog telah mencapai 3,84 juta ton. Namun, sebanyak 1,45 juta ton beras di gudang Perum Bulog disimpan lebih dari 6 bulan.
“Sebanyak 1,45 juta ton atau setara 37,95% dari total stok tersebut memiliki usia simpan di atas 6 bulan beras,” ujar Nita dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kemendagri, Jakarta, Senin (6/10/2025).
Lebih lanjut, dia mengungkapkan sebanyak 29,99 ribu ton beras yang ada di gudang Perum Bulog juga telah mengalami turun mutu. Adapun jumlah beras tersebut terdiri dari pengadaan dalam negeri dan impor.
“Sebanyak 29,99 ribu ton beras yang terdiri dari 3 ribu ton beras dalam negeri dan 26,89 ribu Ton beras luar negeri tergolong telah turun mutu,” kata dia.
Dia mengatakan, untuk beras yang mengalami turun mutu akan dilakukan reprocessing untuk memperbaiki mutu beras tersebut.
“Perum Bulog perlu melakukan pengujian kualitas CBP secara berkala untuk memastikan beras yang disalurkan kepada masyarakat layak untuk dikonsumsi dari sisi sensori dan keamanan,” ucapnya.
Sebelumnya, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, tak bisa menahan amarah saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Gudang Bulog Tabahawa, Maluku Utara, belum lama ini.
Titiek langsung naik pitam ketika menemukan tumpukan beras cadangan pemerintah (CBP) yang warnanya menghitam karena sudah terlalu lama disimpan.
Dalam video yang diunggah akun resmi DPR RI, ekspresi kecewa Titiek terlihat jelas. Ia menegaskan agar pihak Bulog melaporkan kondisi sebenarnya tanpa ditutup-tutupi kepada pimpinan kementerian maupun kantor pusat. “Ini untuk mengecek kondisi beras yang ada di sini. Ternyata ada yang sudah setahun lebih, masuk Mei 2024, dan masih ada 1.200 ton,” ucapnya, dikutip di Jakarta, Sabtu (27/9/2025).
Titiek mempertanyakan alasan stok lama itu tak segera disalurkan sehingga kualitasnya menurun drastis. Sambil menunjuk tumpukan beras berwarna abu-abu, ia menilai beras tersebut sudah tidak layak konsumsi. “Saya nggak tahu ini mau disimpan sampai kapan. Kenapa nggak disalur-salurkan?” ujarnya dengan nada tinggi.
Ia juga menyoroti beras yang dilepas Bulog melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga Rp65 ribu per kemasan 5 kilogram. Menurutnya, kualitas beras yang dijual ke masyarakat jauh dari kata standar.
“Kalau SPHP dapatnya yang kayak begini, jelas nggak layak. Buat bantuan pun tidak pantas, apalagi untuk dijual. Mungkin cocoknya untuk pakan ternak,” tegasnya.
Bagi Titiek, persoalan beras bukan sekadar urusan distribusi pangan, melainkan menyangkut hak rakyat untuk hidup sehat dan layak. Karena itu, ia mendesak Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan Bulog segera mengambil langkah cepat agar stok lama segera tersalurkan sebelum makin rusak.
“DPR RI akan menggelar rapat kerja lintas lembaga supaya distribusi bisa lebih cepat dan tepat sasaran. Rakyat berhak makan beras terbaik, bukan beras berkualitas buruk seperti ini. Kalau disalurkan dalam kondisi begini, jelas tidak layak,” tegasnya.
Dalam sidak tersebut, Kepala Perum Bulog Cabang Ternate, Jefry Tanasy, yang mendampingi langsung, memilih bungkam ketika dicecar pertanyaan mengenai tumpukan beras yang dibiarkan menumpuk lebih dari setahun itu.













