Aksi solidaritas ojek online (ojol) pasca tewasnya Affan Kurniawan (21), yang dilindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta, meluas hampir merata dari Aceh hingga Papua. Analis Drone Emprit menilai permintaan maaf Polri saja tidak cukup untuk meredakan amarah publik.
Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, melalui akun X pribadinya, memaparkan peta sebaran demonstrasi yang diolah menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Natural Language Processing (NLP). Peta tersebut menunjukkan titik-titik aksi di berbagai daerah.
“Dari Aceh hingga Papua, demo dan protes menyuarakan keresahan yang sama,” tulis Fahmi sembari mengunggah video visualisasi peta.
Menurut Fahmi, data dihimpun dari ribuan berita daring yang diproses dengan metode Named Entity Recognition sebelum divisualisasikan melalui dashboard FactMiner. Dari analisis semantik Subjek, Predikat, Objek (SPO), terungkap bahwa tokoh sentral aksi pada 29 Agustus 2025 adalah almarhum Affan Kurniawan.
“Issu utama yang menggerakkan aksi di berbagai daerah adalah tuntutan keadilan bagi Affan dan kritik terhadap tindakan represif aparat,” kata Fahmi.
Rekomendasi Drone Emprit
Drone Emprit juga merumuskan sejumlah langkah yang seharusnya diambil pemerintah dan kepolisian agar eskalasi mereda:
- Transparansi dan akuntabilitas. Polisi perlu mengumumkan secara terbuka proses investigasi, termasuk identitas pengemudi rantis, prosedur operasi standar (SOP) yang digunakan, dan pihak yang bertanggung jawab. “Libatkan lembaga independen seperti Komnas HAM, Kompolnas, dan DPR agar tidak dianggap ‘main aman’,” ujar Fahmi.
- Tanggung jawab dan sanksi nyata. Publik menilai permintaan maaf tidak cukup. “Harus ada penahanan oknum, proses hukum terbuka, serta sanksi disiplin internal. Ini penting untuk mengembalikan kepercayaan publik,” tegasnya.
- Pendekatan humanis. SOP penggunaan kendaraan taktis dan metode pembubaran massa harus dievaluasi. Aparat perlu dilatih ulang untuk mengedepankan de-eskalasi, bukan represi.
- Dialog dengan komunitas. Pemerintah diminta segera membuka ruang komunikasi dengan perwakilan ojol, serikat buruh, dan mahasiswa.
- Empati aktif. Bentuk kepedulian bisa ditunjukkan dengan menemui keluarga korban, memberikan kompensasi, dan memastikan perlindungan hukum.
Fahmi menutup dengan menekankan pentingnya momentum reformasi aparat. “Publik perlu diyakinkan bahwa kasus ini bukan sekadar insiden, tetapi titik balik menuju polisi yang lebih humanis,” ujarnya.














