PHK Massal Gudang Garam, KSPI Harap Nasib Karyawannya tak Seapes Buruh Sritex

PHK Massal Gudang Garam, KSPI Harap Nasib Karyawannya tak Seapes Buruh Sritex


Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) bikin heboh media sosial (medsos). Kini, nasib pekerja GGRM yang jumlahnya lebih dari 30 ribu orang, atau 3 kali pekerja Sritex, raksasa industri yang bangkrut, benar-benar di ujung tanduk.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal berjanji akan melakukan mengonfirmasi informasi PHK di Gudang Garam. Kalau benar, dia mengingatkan manajemen Gudang Garam agar memenuhi seluruh hak-hak pekerja sesuatu aturan perundang-undangan.

“Saya ingatkan manajemen Gudang Garam untuk jalankan aturan, jangan seperti Sritex. Hanya beri janji manis tak gak bayar pesangon bahkan THR kemarin saja belum dilaksanakan hingga saat ini,” ungkap Said Iqbal, Jakarta, Minggu (7/9/2025).

Di khawatir, gelombang PHK di Gudang Garam bakal lebih dahsyat ketimbang Sritex yang karyawannya sekitar 10 ribu pekerja. Dampak ikutan dari PHK pekerja Gudang Garam perlu dipikirkan seluruh pihak.

“Karena tidak hanya buruh pabrik Gudang Garam yang kena PHK, pekerja sektor lain khususnya informal, juga kena. Khususnya mereka yang menggantungkan hidup kepada industri rokok itu. Petani tembakau, sopir, pedagang kecil, kena juga,” imbuhnya.

Untuk itu, lanjut Said Iqbal, KSPI mendesak pemerintah pusat, daerah serta pihak terkait untuk turut menyelamatkan industri rokok nasional. Terkhusus melindungi nasib puluhan ribu pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan.

Di medsos X (dulu Twitter), informasi terkait PHK Gudang Garam menjadi trending topik. Memuat video yang menayangkan video perpisahan yang mengharukan. Puluhan pekerja Gudang Garam berseragam biru dan merah duduk berjajar rapi di sebuah ruangan.

Tampak seperti acara perpisahan. Dengan raut wajah sedih, mereka bersalaman dengan beberapa orang yang terkesan punya posisi penting di perusahaan Gudang Garam di Tuban, Jawa Timur.

Sejatinya, kinerja perusahaan sudah mulai terlihat menurun sejak 2024. Kala itu, laba perusahaan anjlok terlalu dalam. Bahkan boleh dibilang terjun bebas. Cuan GGRM merosot 81,57 persen, dari Rp5,32 triliun pada 2023, tersisa menjadi Rp980,8 miliar.

Tekanan ini berlanjut ke semester I-2025, di mana GGRM membukukan pendapatan Rp44,36 triliun, berdasarkan laporan keuangan perusahaan. Capaian pendapatan sebesar itu, turun 11,30 persen secara tahunan (year on year/yoy, pada paruh pertama 2024, pendapatan Gudang Garam mencapai Rp50,01 triliun.

Sedangkan cuan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (laba bersih), sebesar Rp117,16 miliar. Anggaplah semester kedua sama, maka total laba GGRM hanya sekitar Rp234 miliar. Makin turun ketimbang 2024 yang mencapai Rp980,8 miliar.

Atas sempoyongannya kinerja, berdampak kepada harga saham GGRM yang makin hari makin babak belur. Saat masa jaya, saham GGRM dibanderol Rp83.650 untuk selembarnya. Kini turun10 kali lipat menjadi sekitar Rp8.800 per lembar. Pada 8 April 2025, saham GGRM sempat menyentuh titik terendah sepanjang tahun, yakni Rp8.675 per lembar.

Merahnya laporan keuangan GGRM membuktikan, keuangan pabrik rokok yang didirikan Surya Wonowidjojo alias Tjoa Ing Hwie pada 26 Juni 1958 itu, tidak sedang baik-baik saja. Sehingga muncul kabar PHK massal yang belum juga direspons pihak Gudang Garam. 
 

Visited 3 times, 1 visit(s) today