Aplikasi Meet-Up Berbasis AI Muncul Lawan ‘Epidemi Kesepian’

Aplikasi Meet-Up Berbasis AI Muncul Lawan ‘Epidemi Kesepian’


Di tengah maraknya aplikasi kencan dan media sosial, muncul gelombang baru layanan digital: aplikasi meet-up berbasis AI yang dirancang bukan untuk swipe kanan-kiri, melainkan mempertemukan orang asing dalam suasana nyata.

Salah satunya adalah 222, platform yang mengatur makan malam, sesi yoga, hingga kelas improvisasi bagi penggunanya. Sebelum acara, peserta diwajibkan mengisi kuesioner panjang soal nilai hidup, minat, hingga toleransi terhadap obat-obatan. AI kemudian menyusun kelompok dengan potensi kecocokan tinggi.

“Saya tidak mendapatkan citra palsu yang orang lain tampilkan, tapi justru sisi manusia yang sebenarnya,” kata JT Mason (25), paramedis yang baru pertama kali ikut acara makan malam dengan lima orang asing lewat aplikasi tersebut.

Setelah acara, pengguna memberi umpan balik siapa saja yang ingin ditemui lagi. Sistem belajar dari interaksi itu, lalu menyempurnakan rekomendasi pertemuan berikutnya.

Dari Swipe ke Hubungan Nyata

Pendiri 222, Keyan Kazemian (26), sebelumnya bekerja di Match Group, induk Tinder dan Hinge. Ia menilai aplikasi kencan tradisional hanya mengejar interaksi permukaan.

“Sebagian besar teknologi baru justru membuat orang lebih lama dengan entitas virtual, bukan manusia,” ujarnya. “Kami ingin membantu orang bukan hanya membuat koneksi awal, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang.”

Tren ini tidak hanya dimotori 222. Kndrd, aplikasi yang dibuat Isabella Epstein, mantan bankir investasi di New York, kini memiliki sekitar 10 ribu pengguna. Fokusnya adalah perempuan di bawah usia 40 tahun yang bisa mengusulkan aktivitas bersama, mulai dari happy hour hingga olahraga pickleball.

Epstein, yang merasakan sendiri sulitnya membangun koneksi di kota besar, menyebut Kndrd lahir dari pengalaman pribadinya mencari teman.

Selain itu, ada pula Timeleft, Plots, dan Realroots, yang mengusung konsep serupa: membantu orang bertemu secara nyata.

Jawaban untuk Epidemi Kesepian

Fenomena ini muncul di tengah peringatan para ahli kesehatan. Mantan surgeon general AS, Vivek Murthy, sejak 2017 menyebut “epidemi kesepian” sebagai ancaman serius. Dalam laporannya 2023, ia menyebut dampak kematian akibat keterasingan sosial setara dengan merokok 15 batang rokok per hari, bahkan lebih berisiko dibanding obesitas atau kurang aktivitas fisik.

Penyebabnya beragam, mulai dari hilangnya institusi sosial tradisional, ketergantungan pada platform digital, hingga pandemi dan tren kerja jarak jauh.

Bagi investor, model bisnis aplikasi meet-up berbasis AI ini juga dianggap sehat. “Keuntungan mereka justru datang ketika pengguna bertemu di dunia nyata, bukan berlama-lama di layar,” kata Felix-Olivier Ngangue dari Convivialite Ventures.

Visited 3 times, 1 visit(s) today