Ilustrasi-Karyawan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP). (Foto: Antara/HO WSBP).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nasib PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) tak kalah apesnya dengan induk usahanya, yakni PT Waskita Karya (Persero/WSKT) Tbk. Keduanya dirundung masalah keuangan yang serius. Salah sedikit saja bisa berujung fatal. Perusahaannya bisa pailit alias bangkrut.
Paruh pertama 2025, WSBP membukukan rugi bersih sebesar Rp236,88 miliar. Akibatnya, hingga 30 Juni 2025, akumulasi defisit perseroan melonjak menjadi Rp9,69 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip Sabtu (20/9/2025), WSBP hanya mampu mencatat pendapatan Rp732,65 miliar, alia terjun bebas 17,86 persen secara tahunan alias year on year (yoy).
Meski beban pokok pendapatan turun menjadi Rp601,15 miliar dari Rp720,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bruto tetap tertekan hingga Rp131,5 miliar atau menyusut 23,41 persen (yoy).
Beban usaha memang berhasil ditekan menjadi Rp225,58 miliar, jauh lebih rendah dibanding semester I-2024, mencapai Rp459,32 miliar.
Namun, tambahan tekanan datang dari beban keuangan yang menembus Rp142,81 miliar. Faktor ini ikut memperdalam kerugian WSBP di paruh pertama tahun.
Kerugian tersebut membuat saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya terus membengkak. Dari Rp9,45 triliun pada 31 Desember 2024, jumlahnya meningkat menjadi Rp9,69 triliun per 30 Juni 2025.
Kondisi ini sekaligus menyeret ekuitas WSBP semakin ke zona merah, tercatat negatif Rp1,76 triliun atau naik 12,82 persen dibanding akhir 2024 yang masih minus Rp1,56 triliun.
Di sisi lain, posisi aset perseroan juga kian menurun. Hingga akhir semester pertama tahun ini, total aset tercatat Rp3,29 triliun, menyusut 9,12 persen secara year-to-date.
Posisi kas dan setara kas bahkan anjlok tajam, hanya tersisa Rp49,67 miliar, merosot 75,86 persen dari Rp205,75 miliar pada 31 Desember 2024.
Potret keuangan tersebut menunjukkan WSBP masih harus berjibaku memperbaiki fundamental, di tengah defisit yang terus menggunung dan likuiditas yang semakin menipis.
Sedangkan keuangan sang induk yakni WSKT tak kalah beratnya. Potret keuangan BUMN karya ini, masih didera rugi di paruh pertama 2025.
Per semester I-2025, pendapatan usaha WSKT hanya Rp3,10 triliun atau turun 30,63 persen ketimbang semester I-2024 sebesar Rp4,47 triliun.
Secara rinci, segmen jasa konstruksi masih mendominasi dengan kontribusi Rp2,11 triliun. Kemudian diikuti segmen pendapatan jalan tol Rp579,81 miliar, segmen penjual precast Rp308,55 miliar, segmen pendapatan properti Rp32, 43 miliar, segmen pendapatan hotel Rp44 miliar, segmen penjualan infrastruktur Rp18,51 miliar dan segmen sewa gedung dan peralatan Rp5,65 miliar.
Kalau melihat pendapatan yang berasal dari pihak ketiga, proyek dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hanya Rp484,62 miliar per semester I-2025. Padahal periode yang sama tahun lalu, mencapai Rp1,68 triliun.
Akibatnya, WSKT masih mencatatkan rugi yang diatribusikan kepada pemilik perusahan sebesar Rp2,13 triliun per semester I-2025. Nilainya turun tipis dari rugi bersih di semester I-2024 sebesar Rp2,15 triliun.
Kerugian per saham pun sedikit membaik dari Rp74,95 per Juni tahun lalu, menjadi Rp74,31 per Juni 2025. Per 30 Juni 2025, WSKT punya total aset Rp 73,83 triliun. Ini turun dari Rp 77,15 triliun per 30 Juni 2024.
Total liabilitas perseroan Rp68,30 triliun di akhir Juni 2025, turun dari Rp69,27 triliun di akhir Desember 2024. Sementara, jumlah ekuitas Rp5,52 triliun di kuartal II 2025, turun dari Rp7,88 triliun di akhir tahun 2024.














