Penampakan para pekerja yang memiliki kesempatan bekerja dari coffee shop. (Dokumentasi: Inilah.com/ Reyhaanah)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kalimat ajakan work from coffee shop (WFC) yuk, kini tak lagi sekadar ajakan minum kopi. Istilah itu telah berubah menjadi fenomena baru yang menjadikan kafe sebagai ruang kerja alternatif bagi anak muda, terutama di perkotaan.
Istilah ngopi pun kini beralih seperti tempat membuka laptop, mengerjakan laporan, atau sekadar rapat informal.
“Kalau dulu ngopi kan ya ibaratnya nongkrong di warkop. Sekarang, ngopi tuh sambil buka laptop, kerja santai lah,” kata Faiz (27) karyawan swasta yang sering WFC, saat berbincang dengan inilah.com di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (19/9/2025).
Istilah WFC pun menjamur bagi banyak pekerja muda, dikarenakan beberapa faktor. Seperti akses internet yang cepat, suasana yang lebih hidup, serta kesempatan berinteraksi dengan orang baru.
Fenomena ini bahkan melahirkan istilah coworking coffee ruang di mana nongkrong, kerja, dan networking bercampur jadi satu.
“WFC gini tuh kalau saya sih berasa lebih produktif, jadi semangat karena suasananya hidup, terus juga orang-orang yang ke sini banyak dari kalangan beda-beda. Kadang suka sharing kalau tiba-tiba lagi stuck sama kerjaan,” ujar Faiz.
Rogoh Budget Besar
Namun, tren ini juga melahirkan persoalan baru. Tidak semua pekerja mampu rutin mengeluarkan biaya kurang lebih sekitar Rp30 ribu – Rp50 ribu, hanya untuk membeli kopi agar bisa menyewa kursi kerja seharian.
Bagi sebagian kalangan, WFC menciptakan kesenjangan akses, siapa yang bisa bekerja di ruang nyaman, dan siapa yang hanya bisa di rumah atau kantor formal.
Fenomena WFC ini pun menunjukkan perubahan budaya kerja anak muda urban, dari kantor formal ke ruang-ruang alternatif yang cair.
Namun, di balik cerita produktivitas dan jejaring sosial, ada pertanyaan penting, apakah tren ini benar-benar mendukung kualitas kerja, atau justru hanya menggeser kantor ke ruang konsumsi?
Meski memberi suasana berbeda, WFC belum tentu cocok untuk semua pekerjaan. Gangguan suara, musik, atau keramaian justru bisa menurunkan fokus.
Belum lagi, tidak semua coffee shop memiliki design untuk para pekerja. Akhirnya, momen orang yang sekadar ingin nongkrong, rapat informal ataupun bekerja jadi tercampur.
“Tergantung sih ya. Kalau sering WFC, kadang mending ke kantor ketemu orang yang sudah kenal dan berhuru-hara’ria bersama mereka, kerjaan jelas, deadline jelas, kesibukan sama produktifitasnya jelas, orangnya jelas,” kata Boy dalam cuitannya di media sosial X.














