Pemerintahan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menunjukkan sikap kerasnya di kancah Mediterania. Italia secara resmi telah mengirimkan satu kapal perang Angkatan Laut (AL) mereka ke perairan selatan Mediterania. Misi utamanya: melindungi konvoi kapal bantuan internasional yang tengah berlayar menuju Gaza.
Tindakan tegas ini muncul setelah serangkaian serangan yang disebut tidak dapat ditoleransi terhadap kapal-kapal sipil tersebut.
Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, memastikan pengerahan kapal perang tersebut saat berbicara di hadapan Senat pada Kamis (25/9/2025). Menurut Crosetto, kapal fregat Virginio Fasan telah dikirim sejak Rabu (24/9/2025) sebagai respons langsung atas insiden teror yang terjadi di lepas pantai Pulau Kreta, Yunani.
Dalam insiden tersebut, sejumlah drone menjatuhkan granat kejut ke beberapa kapal yang tergabung dalam konvoi Global Sumud Flotilla (GSF).
“Pemerintah Italia mengutuk keras apa yang telah terjadi. Serangan terhadap kapal sipil di perairan terbuka sama sekali tidak dapat diterima,” tegas Crosetto, menandai peningkatan tensi regional.
Meski demikian, Crosetto menekankan bahwa mandat dari kapal perang Italia itu sangat spesifik dan terbatas, yakni sebatas memberikan perlindungan kepada warga negara Italia dan warga sipil lainnya yang berada di dalam konvoi tersebut.
Saat ini, satu kapal yang lebih besar juga sedang dalam perjalanan untuk menggantikan peran Fasan setelah kapal pertama berhasil mencapai konvoi bantuan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan drone misterius tersebut. Pihak GSF —yang terdiri dari sekitar 52 kapal kecil dan lebih dari 500 sukarelawan dari lebih 40 negara— secara langsung menuding Israel sebagai dalang di balik serangan.
Namun, hingga kini Israel belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan serius ini. Tujuan utama GSF sendiri adalah menantang blokade laut Israel yang telah diberlakukan sejak tahun 2007 di wilayah perairan Gaza, sekaligus mengirimkan pasokan penting berupa bantuan makanan dan medis bagi warga Palestina yang kelaparan.
Sikap keras Italia ini sejalan dengan pernyataan politik yang disampaikan Perdana Menteri Giorgia Meloni beberapa jam sebelumnya. Berbicara di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Meloni secara terbuka menilai bahwa operasi militer Israel di Gaza telah ‘melewati batas’.
Meskipun mengakui hak Israel untuk merespons serangan Hamas pada Oktober 2023, Meloni menggarisbawahi skala pembalasan yang dinilainya tidak proporsional. Ia menegaskan bahwa dampak dari operasi militer tersebut telah menimbulkan banyak korban sipil dan memicu bencana kemanusiaan yang masif.
Memang, putaran terbaru konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung hampir dua tahun ini telah merenggut lebih dari 65.000 nyawa di Gaza. Data menyedihkan mencatat bahwa hampir setengah dari jumlah korban tewas tersebut merupakan wanita dan anak-anak.
Konflik berkepanjangan ini juga telah mendorong 2 juta penduduk Gaza terperosok ke dalam krisis kemanusiaan yang sulit dibayangkan.
Dengan pengerahan kapal perang Fasan, Italia menegaskan komitmennya untuk melindungi upaya bantuan di tengah konflik yang semakin memanas ini.














