Para kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di lobi Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara. (Foto: Inilah.com/Syahidan).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Sore itu, lobi Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, dipenuhi wajah-wajah lelah. Pendingin ruangan bekerja tanpa henti, namun hawa panas tetap menggantung. Para kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang duduk berkelompok tampak gamang.
Ada yang saling berbisik, ada pula yang memilih diam. Mereka keder alias kebingungan, tak tahu harus menyikapi seperti apa kekisruhan yang terjadi di forum tertinggi partai.
Muktamar X yang semestinya jadi pesta demokrasi, justru berubah menjadi drama kursi terbang. Sejak pembukaan, Sabtu (27/9/2025), tensi sudah memanas.
Plt Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono belum lama memberi sambutan ketika teriakan “perubahan” menggema. Balasannya datang seketika yel-yel “lanjutkan” dari kubu pendukung Mardiono. Adu mulut tak terelakkan, kursi pun ikut terangkat dan melayang keluar ballroom.
Malam harinya, suasana sidang paripurna pembahasan AD/ART semakin panas. Kader yang semestinya berdebat dalam koridor aturan justru saling tunjuk, suara meninggi, botol air mineral pecah di lantai. Beberapa kursi kembali beterbangan, membuat rapat praktis tak terkendali.
“Suasananya gaduh banget muktamar kali ini. Apalagi semalam kan itu,” ujar Hendra, salah seorang kader PPP. Ia mengaku kecewa melihat dinamika yang lebih memecah belah ketimbang menyatukan.
Keesokan paginya, Minggu (28/9/2025), suasana di luar hotel kontras dengan yang ada di dalam. Karangan bunga ucapan selamat berjejer rapi di pintu masuk, semula sebagai simbol harapan dan doa. Namun kini, sebagian miring, sebagian lagi nyaris tak terbaca, seolah ikut merasakan kisruh yang menimpa partai berlambang Ka’bah itu.
Situasi makin rumit ketika muncul dua klaim aklamasi. Pimpinan sidang Amir Uskara sempat membacakan keputusan bahwa Muhammad Mardiono terpilih secara aklamasi. Namun tak berselang lama, Agus Suparmanto juga mengumumkan klaim serupa. Dualisme ini membuat kader semakin bingung.
“Kalau bisa aklamasi satu suara aja siapa gitu. Kalau ada dua calon gini, ya gak selesai-selesai,” kata Fikri, kader muda PPP. Ia menilai kericuhan yang terjadi mencoreng wajah partai. “Orang di luar melihat kita seperti tidak dewasa, padahal kita partai yang sudah puluhan tahun berdiri,” tambahnya.
Di dalam hotel, suasana masih campur aduk. Beberapa ruang dipenuhi rapat-rapat kecil, mencoba mencari jalan keluar. Namun di koridor, jejak kericuhan masih jelas: kursi terguling, botol plastik berserakan, hingga seorang kader yang masih berusaha menenangkan rekannya yang emosinya belum reda.
“Kerusuhan itu tidak seharusnya ada, apalagi di forum tertinggi partai,” ujar Hendra, sambil menarik napas panjang.
Di tengah situasi kacau itu, sebagian kader hanya bisa bertahan di lobi hotel, menunggu kabar lebih lanjut. Mereka berharap ada titik terang, meski raut wajah menunjukkan keraguan.
“Muktamar ini harusnya kan jadi momentum konsolidasi. Kalau malah pecah, siapa yang akan dirugikan? Tentu kader di bawah,” kata Fikri, menutup obrolan dengan nada getir.
Kebingungan kader PPP terasa nyata, siapa sebenarnya Ketua Umum yang sah? Bagaimana nasib partai setelah drama ini? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban pasti. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah letih dan kegelisahan, seakan PPP tengah berdiri di persimpangan jalan, antara harapan untuk bangkit atau makin larut dalam konflik internal.










