Sejak Awal Dadan Tahu Ada Potensi SPPG Salah Olah Masakan MBG, Ujungnya Jebol Juga

Sejak Awal Dadan Tahu Ada Potensi SPPG Salah Olah Masakan MBG, Ujungnya Jebol Juga

Reyhaanah Medium.jpeg

Minggu, 28 September 2025 – 18:02 WIB

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2025). (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2025). (Foto: Inilah.com/Reyhaanah).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Per 22 September sebanyak 4.711 orang menjadi korban keracunan menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di tujuh wilayah Indonesia, dugaan sementara adalah kesalahan SOP pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam mengolah bahan baku menjadi makanan.

Sejatinya potensi ini sudah lama dipahami oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, dan sempat dia utarakan saat menjadi narasumber Podcast Jurnalisik Inilah.com, beberapa waktu lalu.

“Terus terang ada dua risiko yang besar dalam program makan bergizi gratis yaitu penyalahgunaan anggaran dan gangguan kesehatan akibat makanan yang tidak proper dimasak. Dari dua risiko itu saya lebih takut kepada yang nomor dua,” ujar Dadan, dikutip Minggu (28/9/2025).

Menurutnya, risiko kesehatan sulit dikendalikan karena rantai pengolahan makanan yang panjang, mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi ke sekolah.

“Nah risiko yang kedua, di mana ada pengaruh dari masakan terhadap aspek kesehatan, karena rantainya panjang. Mulai dari pemilihan bahan baku, kadang-kadang bahan bakunya ada yang sudah jelek kemudian ketika masak ada gangguan teknis,” jelasnya.

Selain itu, faktor keterlambatan konsumsi makanan juga menjadi tantangan tersendiri. Contohnya, waktu yang mana para anak-anak harus makan jam 8 pagi tapi justru diundur ke siang hari.

Ia menambahkan, ada pula kemungkinan makanan dibawa pulang oleh siswa sehingga menurunkan kualitasnya.

“Ada juga anak itu kadang-kadang tidak mau makan, bawa ke rumah, pada saat dibawa ke rumah kan sudah ada delay waktu kesegaran makanan itu, atau faktor yang lain contohnya kondisi masing-masing anak,” tutur Dadan

Meski sudah tahu akan potensi ini, toh nyatanya jebol juga. Sebanyak 4.711 orang menjadi korban keracunan MBG di tujuh wilayah Indonesia. Dari jumlah itu, 1.281 kasus terjadi di Sumatra, 2.606 kasus di Jawa, serta 824 kasus di Kalimantan, Bali, Sulawesi, NTT, Maluku hingga Papua.

Namun, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat angka berbeda yakni mencapai 6.452 korban per 21 September 2025. Kasus di Bandung Barat menjadi salah satu yang disorot. Laboratorium Kesehatan (Labkes) Jawa Barat menemukan bakteri Salmonella dan Bacillus Cereus pada sampel makanan program MBG.

“Jadi faktor yang kedua ini memang agak berat untuk dikontrol karena rantainya panjang tapi kami usahakan secepat mungkin. Dan kami targetnya nol kejadian supaya betul-betul makanan itu bermanfaat. Kita usahakan 0 kejadian, meskipun saya deg-degan setiap hari,” pungkasnya.

Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), ada 9.533 SPPG yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Namun, hingga kini belum ada kepastian berapa di antara mereka yang sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
 

Topik
Komentar

Visited 8 times, 1 visit(s) today