Di Balik Kelangkaan Emas, DPR Tanya Bos Antam: Siapa yang Bermain?

Di Balik Kelangkaan Emas, DPR Tanya Bos Antam: Siapa yang Bermain?

Clara Medium.jpeg

Senin, 29 September 2025 – 20:02 WIB

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Kawendra Lukistian. (Foto: Dok Fraksi Partai Gerindra).

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Kawendra Lukistian. (Foto: Dok Fraksi Partai Gerindra).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Anggota Komisi VI DPR, Kawendra Lukistian meminta Direktur Utama (Dirut) PT Aneka Tambang Tbk (Persero/Antam), Achmad Ardianto melakukan pengecekan buntut kelangkaan emas fisik di pasaran.

Kawendra menduga, hanya 20 persen stok emas yang beredar di pasaran domestik. Diduga ada permainan dari oknum untuk menahan distribusi emas. Hal itu memicu kenaikan harga yang berujung kepada inflasi.

“Saya dapat kabar dari teman-teman, kalau cari stok emas susah. Cuma bisa 20 persen paling. Kalau begini permainan, nunggu harga segala macam, ini bisa menyumbang inflasi besar. Coba dicek,” ujar Kawendra dalam rapat kerja bersama PT Antam di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/9/2025).

Merespons kecurigaan dari kader Partai Gerindra itu, Ardianto menjelaskan, distribusi emas Antam bergantung pada pemesanan atau wholesaler. Dari situ, wholesaler akan membeli emas dari Antam, secara back to back. Selanjutnya, emas itu masuk ke pasar untuk didistribusikan ke konsumen.

“Setelah diserahkan ke wholesaler, mereka yang mendistribusikan ke toko emas. Hampir 70 persen bisnis kami, seperti itu. Jadi tidak 100 persen dari 43 ton emas adalah milik Antam, karena 70 persen sudah dibeli wholesaler,” ucap Ardianto.

Dia mengatakan, Antam hanya mampu mendistribusikan emas ke 15 butik logam mulia dengan maksimal stok sekitar 30 persen. Hal itu dipicu keterbatasan modal kerja perusahaan. “Kemampuan kami modal kerja nya hanya segitu, 30 persen,” ucap dia.

Lebih lanjut, Ardianto mengaku terkendala dengan bahan baku, karena perusahaan tidak bisa melakukan impor bahan baku emas, sementara pasokan dari dalam negeri juga terbatas. Kondisi ini membuat produksi dan distribusi berlangsung lebih hati-hati.

“Bagaimana caranya agar distribusi bisa terpenuhi, ya kuncinya di sourcing (sumber). Beberapa bulan terakhir kami tidak bisa impor, sementara dari dalam negeri juga tidak ada yang mau jual. Jadi, bahan baku kami memang susah. Kalau bahan baku bisa kami amankan, kami bisa lebih cepat mendistribusi,” tutur dia.
    

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today