Mengapa Greta Thunberg dan Global Sumud Flotilla Ngotot Kirim Bantuan Lewat Laut ke Gaza?

Mengapa Greta Thunberg dan Global Sumud Flotilla Ngotot Kirim Bantuan Lewat Laut ke Gaza?

Drama kemanusiaan di tengah laut kembali tersaji, menyajikan kontroversi baru di tengah konflik yang tak berkesudahan di Gaza. Angkatan Laut Israel telah mencegat sejumlah kapal milik Global Sumud Flotilla (GSF) yang nekat membawa bantuan ke Gaza melalui jalur maritim. Tak hanya bantuan yang ditahan, para aktivis yang terlibat, termasuk ikon aktivis iklim dunia, Greta Thunberg, juga ikut diciduk dan ditahan.

Pencegatan ini langsung memantik reaksi keras. Otoritas Israel mengonfirmasi bahwa para aktivis kini telah dipindahkan ke pelabuhan Israel, di mana prosedur deportasi akan segera dimulai. Ironisnya, GSF dan para aktivis berkeras bahwa mereka ditangkap saat berada di perairan internasional, sebuah klaim yang jika terbukti benar, akan memperkeruh citra operasi militer Israel di mata dunia.

Kementerian Luar Negeri Israel memang mengakui telah mencegat hampir seluruh kapal GSF, menyisakan satu kapal yang diklaim masih ‘berada di kejauhan’ namun dipastikan akan dicegat jika berani mendekat. Israel secara gamblang menunjukkan bahwa blokade maritim Gaza adalah garis merah yang tidak bisa ditoleransi.

post-cover
Sejumlah aktivis berpose di atas kapal Alma, salah satu dari sekitar 50 kapal yang tergabung dalam armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla. (Foto: Dok. GSF/Yasemin Acar)

Ancaman ‘Senjata Kimia’ dan Serangan Drone di Laut Lepas

Sebelum insiden pencegatan ini, para aktivis GSF sudah lebih dulu melaporkan serangkaian serangan dan intimidasi yang diduga dilakukan terhadap armada mereka. Ini bukan sekadar bentrok fisik biasa; laporan para aktivis mengarah pada eskalasi yang lebih berbahaya.

Youssef Samour, salah satu aktivis di kapal Yulara, menceritakan momen mencekam. “Kami mengalami salah satu serangan kimia —untungnya serangan itu luput dari kapal saat saya sedang bermanuver zig-zag ketika kami mendengar suara pesawat tak berawak,” kata Samour.

Ia menyebut, zat yang dijatuhkan drone itu mendarat di dekatnya dan sempat mengenai wajah, menyebabkan iritasi meskipun berhasil ia bersihkan.

Kesaksian serupa datang dari aktivis Kuwait, Abdel Rahman Ghazal, yang berada di atas kapal Spectre. Ghazal menggambarkan ia hanya berjarak setengah meter ketika sebuah perangkat yang dijatuhkan drone meledak, melepaskan gas yang sangat bau dan menyesakkan.

post-cover
Aktivis iklim Swedia Greta Thunberg bersama aktivis kemanusiaan Youssef Samour di atas kapal Yulara, sedang melakukan upaya kedua untuk mencapai Gaza. (Foto: Dok. GSF/Youssef Samour)

GSF, yang merupakan armada masif terdiri dari sekitar 50 kapal dan 300 aktivis dari puluhan negara, menuduh Israel melakukan ‘eskalasi berbahaya’. Mereka melaporkan terjadi ledakan setelah benda tak dikenal dijatuhkan di dek kapal mereka di laut selatan Pulau Kreta, Yunani, serta gangguan komunikasi yang terjadi bersamaan dengan suara pesawat nirawak di atas kepala.

Militer Israel, seperti biasa, memilih bungkam mengenai dugaan serangan ini. Namun, pejabat Kementerian Luar Negeri Israel, Eden Bar Tal, memberi pernyataan yang keras dan lugas. “Israel tidak akan mengizinkan kapal mana pun memasuki zona pertempuran aktif,” tegas Bar Tal.

Ia bahkan melontarkan tudingan provokasi, menyebut bahwa ‘tujuan sebenarnya dari armada ini adalah provokasi dan melayani Hamas, tentu saja bukan upaya kemanusiaan’.

Global Sumud Flotilla: Kegigihan di Tengah Kelaparan Gaza

Lantas, apa sebetulnya Global Sumud Flotilla (GSF) ini? Dinamai berdasarkan kata Arab Sumud, yang berarti kegigihan atau ketahanan, GSF adalah koalisi kapal yang membawa pasokan bantuan kemanusiaan dan aktivis dari berbagai penjuru dunia.

Mereka bergerak setelah para ahli dari PBB mengonfirmasi bahwa kelaparan parah telah melanda Gaza City dan berpotensi menyebar ke wilayah tengah dan selatan dalam hitungan pekan. Tujuan mereka adalah ‘mematahkan pengepungan ilegal di Gaza melalui laut, membuka koridor kemanusiaan, dan mengakhiri genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina’.

GSF bukanlah misi pertama, melainkan armada ke-38 yang mencoba mematahkan blokade maritim Gaza yang sudah berlangsung lama. Namun, ini adalah upaya terbesar yang pernah dicoba sejak misi serupa dimulai pada 2008.

Armada ini merupakan gabungan dari berbagai kelompok, termasuk Freedom Flotilla Coalition dan Sumud Nusantara yang diorganisir oleh Malaysia dan sembilan negara lainnya.

Sejarah mencatat, upaya mematahkan blokade ini selalu berakhir tegang, bahkan berdarah. Pada 2010, pasukan komando Israel mendarat di kapal Mavi Marmara milik Turki dan melepaskan tembakan peluru tajam yang menewaskan 10 aktivis. Trauma masa lalu itu seolah tidak menyurutkan niat para aktivis GSF.

post-cover
Orang-orang berpose untuk berfoto di depan kapal Omar al-Mukhtar yang siap berlayar untuk bergabung dengan armada Global Sumud Flotilla, di pelabuhan Tripoli, Libya, pada 16 September 2025. (Foto: AFP/Mahmud Turkia)

Dukungan Politik dan Ancaman Hukum Anti-Terorisme

Misi kali ini unik karena mendapat dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari negara Eropa. Italia dan Spanyol bahkan mengirim kapal angkatan laut untuk membantu armada internasional ini, meski kedua negara itu berhati-hati dengan menyatakan kapal mereka tidak akan mendekat kurang dari 278 km dari wilayah Israel/Gaza.

Di atas kapal GSF, berlayar sejumlah tokoh penting dunia. Mulai dari cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, aktris Amerika Susan Sarandon, aktris Prancis Adele Haenel, hingga politisi Eropa seperti Anggota Parlemen Eropa Emma Fourreau dan mantan Wali Kota Barcelona Ada Colau.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa misi ini adalah perlawanan global terhadap kebijakan blokade.

Meskipun menghadapi ancaman keras dari Israel —termasuk ancaman tuntutan hukum berdasarkan undang-undang antiterorisme dan hukuman penjara yang panjang— para aktivis tidak gentar.

Greta Thunberg, yang sebelumnya sempat dideportasi saat mencoba misi serupa pada Juni, kembali ikut serta. Dalam siaran langsung, ia menyebut serangan yang mereka alami sebagai ‘taktik menakut-nakuti’.

“Kami menyadari risiko serangan semacam ini, jadi itu bukan sesuatu yang akan menghentikan kami,” tegas Thunberg. “Kami sangat, sangat bertekad untuk melanjutkan misi kami.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa misi GSF jauh lebih dari sekadar pengiriman bantuan; ini adalah perwujudan dari kata Sumud itu sendiri —sebuah kegigihan global yang bertekad mematahkan isolasi dan kelaparan yang melanda Gaza. 
 

Visited 5 times, 1 visit(s) today