Riset Mekanika Kuantum, 3 Ilmuwan AS Sabet Nobel Fisika 2025

Riset Mekanika Kuantum, 3 Ilmuwan AS Sabet Nobel Fisika 2025

Ikhsan Medium.jpeg

Rabu, 8 Oktober 2025 – 17:02 WIB

Komite Nobel saat mengumumkan Hadiah Nobel Fisika 2025 di Stockholm, Swedia, Selasa (7/10/2025). (Foto: TT News Agency/Christine Olsson)

Komite Nobel saat mengumumkan Hadiah Nobel Fisika 2025 di Stockholm, Swedia, Selasa (7/10/2025). (Foto: TT News Agency/Christine Olsson)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Tiga ilmuwan asal Amerika Serikat (AS) berhasil memboyong Hadiah Nobel Fisika 2025. Penghargaan tertinggi di dunia sains ini diberikan atas terobosan mereka di bidang misterius: mekanika kuantum.

Menurut pengumuman dari Komite Nobel di Stockholm, Swedia, Selasa (7/10/2025), ketiga peraih Nobel adalah John Clarke, Michel H. Devoret, dan John M. Martinis.

Mereka dianugerahi gelar bergengsi itu karena ‘penemuan di bidang penerowongan mekanika kuantum makroskopis dan kuantisasi energi dalam rangkaian listrik’.

post-cover

Bukti Sifat Kuantum di Dunia ‘Besar’

Terobosan utama datang dari eksperimen yang dilakukan ketiganya pada tahun 1984-1985. Mereka menciptakan rangkaian listrik superkonduktor yang dipisahkan oleh lapisan tipis bahan non-konduktif, sebuah rancangan yang dikenal sebagai ‘Josephson junction’.

Hasilnya mengejutkan! Sistem listrik yang mereka buat ternyata menunjukkan perilaku kuantum yang ekstrem. Partikel dapat ‘menembus’ penghalang energi yang secara klasik mustahil dilewati —fenomena yang disebut ‘tunneling’ atau penerowongan kuantum.

Efeknya, meskipun tidak ada arus listrik yang diukur sebelumnya, tiba-tiba muncul voltase tertentu yang terdeteksi.

Penelitian ini sukses membuktikan bahwa sifat-sifat kuantum, yang biasanya hanya tampak pada partikel mikroskopis, kini bisa muncul dalam sistem yang cukup besar (makroskopis) alias benda yang bisa digenggam.

“Sungguh luar biasa melihat bagaimana mekanika kuantum yang sudah berusia seabad masih mampu menghadirkan kejutan-kejutan baru,” ujar Ketua Komite Nobel Fisika, Olle Eriksson.

Buka Gerbang Teknologi Masa Depan

Temuan ketiga ilmuwan ini bukan sekadar teori. Riset mereka telah membuka peluang emas bagi pengembangan teknologi kuantum generasi berikutnya. Ini mencakup komputer kuantum, kriptografi kuantum, dan sensor kuantum

Bahkan, Komite Nobel menyebut bahwa teknologi kuantum sebenarnya sudah lama dimanfaatkan sehari-hari, salah satunya pada transistor, komponen utama di balik mikrocip komputer modern.

John Clarke saat ini merupakan profesor di University of California, Berkeley. Sementara Michel Devoret dan John Martinis adalah profesor di University of California, Santa Barbara.

Ketiganya berhak membagi rata hadiah uang tunai sebesar 11 juta krona Swedia (sekitar Rp19,4 miliar).

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today