Paus Leo XIV melambaikan tangannya dari popemobile pada akhir Misa untuk Yubileum Migran dan Misionaris di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada 5 Oktober 2025. (Foto: Associated Press)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Paus Leo XIV, pemimpin umat Katolik sedunia, akan memulai perjalanan apostolik perdana ke luar negeri dengan memilih destinasi yang sangat signifikan: Turki dan Lebanon. Kunjungan ini, yang dijadwalkan berlangsung pada akhir November hingga awal Desember, menjadi sinyal kuat mengenai fokus Paus terhadap dialog antar-iman dan perdamaian global sejak terpilih pada Mei 2025.
Keputusan Paus Leo XIV untuk menyambangi dua negara berpenduduk mayoritas Islam ini terbilang menarik. Berdasarkan data CIA World Factbook tahun 2022, populasi Turki hampir seluruhnya, yakni 99,8 persen, menganut agama Islam, dengan sisanya 0,2 persen adalah pemeluk Kristiani dan Yahudi.
Sementara itu, Lebanon memiliki komposisi penduduk yang lebih beragam, dengan 67,8 persen Muslim dan 32,4 persen Kristiani, di mana mayoritasnya adalah umat Katolik Maronite.
Misi Perdamaian dan Ziarah Bersejarah
Direktur Kantor Pers Vatikan, Matteo Bruni, melalui sebuah pernyataan, mengonfirmasi bahwa Paus telah ‘menerima undangan dari Kepala Negara dan otoritas Gereja’ di kedua negara tersebut.
Bruni menambahkan bahwa kunjungan ke Turki memiliki nuansa sejarah yang mendalam, mencakup ‘ziarah ke İznik untuk memperingati 1.700 tahun Konsili Nicea Pertama’, sebuah peristiwa penting dalam sejarah Kekristenan.
Rincian agenda kunjungan apostolik ke Lebanon akan diumumkan lebih lanjut dalam waktu dekat.
Kunjungan ke Lebanon disambut sebagai ‘tanda besar harapan’ bagi kawasan yang terus dilanda konflik. Hal ini diungkapkan oleh Uskup César Essayan, Vikaris Apostolik Beirut, kepada Vatican News, dikutip Kamis (9/10/2025).
Umat Kristen dan Muslim Menanti Suara Damai
Uskup Essayan berharap kunjungan ini dapat membawa pembaruan. “Kami sungguh berharap, kunjungan ini akan membawa embusan damai dan menjadi momen pembaruan bagi kita semua, serta menegaskan bahwa tidak ada jalan bagi umat manusia selain melalui perdamaian yang lahir dari dialog, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia,” ucapnya.
Essayan juga menekankan bahwa penantian akan kedatangan Paus tidak hanya dirasakan oleh umat Kristen, tetapi juga Muslim di Lebanon.
“Mereka ingin mendengar suara yang kini jarang terdengar, suara seorang pastor, seorang ayah yang menginginkan manusia hidup sebagai saudara, dan yang membawa bahasa lain bagi Lebanon, bukan bahasa perang,” tutupnya, menegaskan bahwa misi Paus Leo XIV melampaui batas-batas agama.














