Pakar bisnis yang juga Guru Besar FE UI, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. (Foto: Acadameicindonesia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia menunjukkan tren pemulihan positif dan kini dinilai telah ‘berada pada track yang tepat’ untuk kembali berjaya. Optimisme ini disampaikan oleh akademisi dan praktisi bisnis terkemuka, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., dalam video yang dibagikannya di media sosial TikTok dan Instagram.
Prof. Rhenald, yang mengatakan selalu memilih Garuda karena maskapainya reliable dan memberikan layanan full service, mengakui bahwa maskapai tersebut telah melalui fase yang sangat berat pasca-restrukturisasi utang (PKPU) di tengah pandemi 2021-2022. Masalah tersebut sempat membuat jumlah armada Garuda berkurang drastis dan berimbas hingga ke anak perusahaan, Citilink.
Keberanian Kebijakan dan Kepemimpinan Baru
Titik balik yang paling disoroti Prof. Rhenald adalah langkah strategis Presiden Prabowo Subianto di akhir tahun 2024 yang dianggap ‘out of the box‘. Kebijakan ini melibatkan penunjukan jajaran direksi baru, termasuk Direktur Utama yang merupakan sosok muda, mantan anggota TNI-AU, dan memiliki pengalaman memimpin di maskapai swasta.
“Yang menarik adalah pada akhir tahun 2024, kemudian Presiden Prabowo Subianto itu mengambil langkah yang menurut saya itu ‘out of the box‘,” ujar Prof. Rhenald.
Kepemimpinan baru ini, yang membawa cara-cara baru, mulai membuahkan hasil. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu mengamati bahwa pesawat Garuda kini sudah mulai bisa beroperasi kembali, dan Citilink juga mulai beroperasi kembali, menandakan mulai terurainya masalah operasional dan negosiasi dengan lessor pesawat.
Perbaikan di Tengah Tantangan Finansial
Meskipun saat ini ekuitas Garuda masih negatif, maskapai tersebut berhasil mendapatkan suntikan dana berupa pinjaman—sebuah pencapaian yang sangat sulit didapatkan oleh perusahaan dengan kondisi finansial serupa.
“Pinjaman itu untuk perusahaan yang ekuitasnya negatif. Sulit sekali,” kata Prof. Rhenald, yang sebelumnya juga pernah menjadi konsultan di Garuda Indonesia saat maskapai ini baru keluar dari krisis moneter 1998.
Namun, keberhasilan ini menjadi indikasi kuat bahwa pembenahan internal yang dilakukan mulai mendapatkan kepercayaan dari pihak luar.
“Pembenahan itu kelihatannya sekarang mulai berada di tempat yang tepat,” tambahnya.
Jaminan Safety, Service, dan Ketepatan Waktu
Bagi Prof. Rhenald, yang akan segera terbang ke Sydney, Australia, juga dengan menggunakan Garuda, maskapai ini tetap menjadi armada kebanggaan. Ia menegaskan bahwa fokus utama Garuda pada tiga pilar krusial telah tuntas: keselamatan (safety), layanan (service), dan ketepatan waktu.
“Saya merasa yang paling penting adalah safety, lalu kemudian service. Dan tentu saja persoalan ketepatan waktu, ini penting sekali, sudah selesai ini,” ucapnya, seraya menyampaikan harapan. “Harapan saya sih tahun depan mereka [Garuda Indonesia] sudah mulai bisa mendapatkan keuntungan kembali, berkontribusi seperti pesan Presiden.”
Dengan momentum positif dari manajemen baru dan perbaikan operasional, Garuda Indonesia diharapkan dapat segera kembali ke masa kejayaannya, melanjutkan tradisi sebagai maskapai full service andalan dan kebanggaan bangsa.












