Wakil Ketua DPR RI dari Partai NasDem Saan Mustopa usai membuka acara Donor Darah dalam rangka perayaan HUT NasDem ke-14 di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/10/2025).(Foto: inilah.com/Reyhaanah Asya)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Wakil Ketua DPR RI dari Partai NasDem Saan Mustopa mengaku prihatin atas tragedi ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo Jawa Timur belakangan ini. Ia menegaskan, peristiwa ini menjadi catatan bersama seluruh pihak.
“Dengan situasi Ponpes yang ada di Sidoarjo. Dan tentu juga ini harus menjadi keprihatinan bersama, karena ini duka yang mendalam juga buat generasi yang akan datang. Menurut saya memang situasi yang terjadi ini juga harus menjadi catatan buat semua,” kata Saan usai membuka acara Donor Darah dalam rangka perayaan HUT NasDem ke-14 di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/10/2025).
Lebih lanjut, ia berharap evakuasi korban dilakukan secara tuntas sampai tak ada lagi yang tertinggal.
“Benar-benar dipastikan itu selesai semua, clear semua. Jadi tidak ada yang tersisa di situ, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Harus benar-benar dipastikan, sudah tidak ada yang tertinggal lagi, yang di bawah reruntuhan dari ambruknya Ponpes,” tegasnya.
Saat ditanya perihal apakah kasus ini bisa diusut secara hukum, Saan menyebut hal itu sudah selesai secara kekeluargaan baik dari korban maupun Ponpes itu sendiri.
“Itu kan sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Di pesantren kan hubungannya bukan semata-mata ini tapi lebih ke hubungan seperti keluarga. Jadi lebih bisa diselesaikan secara internal,” ujar Saan.
Sebelumnya, Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko menyerukan agar tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny dijadikan pelajaran nasional untuk memperbaiki tata kelola pembangunan di Indonesia. Ia menegaskan, tidak boleh ada lagi nyawa santri yang menjadi korban akibat kesalahan struktur bangunan.
“Bangunan pendidikan adalah ruang kehidupan. Kalau ia runtuh karena salah perhitungan, itu bukan sekadar kecelakaan teknis, tapi tragedi kemanusiaan,” ujar Sudjatmiko dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/10/2025)
Ia menilai, pembangunan yang dilakukan tanpa perencanaan memadai menunjukkan bahwa keselamatan belum menjadi prioritas dalam budaya konstruksi nasional.
“Selama pembangunan masih dianggap cukup dengan niat baik tanpa didukung disiplin teknis, risiko tragedi seperti ini akan terus berulang,” katanya.
Sudjatmiko menekankan setiap bangunan yang gagal harus dianggap sebagai alarm keras agar dilakukan evaluasi menyeluruh.












