Bantuan air bersih UNICEF di Jalur Gaza, Palestina. (Foto: Dok. UNICEF)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik kritis, dan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengeluarkan peringatan yang sangat mengkhawatirkan. Pada Jumat (10/10/2025), UNICEF mendesak agar semua perbatasan menuju Gaza segera dibuka tanpa hambatan. Tujuannya satu: memastikan bantuan makanan masuk secepatnya ke wilayah yang luluh lantak akibat perang tersebut.
Desakan ini bukan tanpa alasan. UNICEF secara tegas memperingatkan potensi lonjakan angka kematian anak-anak yang luar biasa. Risiko ini dipicu oleh kondisi kesehatan yang memburuk drastis, terutama akibat sistem kekebalan tubuh balita di Gaza yang kini sangat lemah.
“Situasinya benar-benar kritis,” ujar juru bicara UNICEF, Ricardo Pires. Ia tidak ragu menyebut bahwa dunia ‘mungkin akan menyaksikan lonjakan kematian anak besar-besaran’.
Pires menjelaskan bahwa ancaman ini tidak hanya menargetkan bayi baru lahir, tetapi juga balita, mengingat sistem kekebalan tubuh mereka kini jauh lebih rapuh dibandingkan kondisi normal.
Menurut data yang dimiliki UNICEF, sedikitnya 50.000 anak di Gaza saat ini berada dalam potensi besar mengalami kekurangan gizi akut. Angka ini membutuhkan penanganan dan perawatan medis segera.
Oleh karena itu, Badan PBB tersebut menegaskan bahwa dukungan nutrisi menjadi prioritas utama mereka dalam penanganan krisis kemanusiaan Gaza pada tahap ini.
Pires menjelaskan lebih lanjut bahwa sejumlah besar anak-anak di sana tidak mendapatkan makanan yang layak —bahkan tidak mendapatkan makanan apapun— dalam jangka waktu yang cukup lama.
Kondisi ini membawa konsekuensi fatal: mereka menjadi tidak berdaya untuk melawan penyakit ringan, tidak tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem, atau menangkal wabah virus yang menyebar. Sistem kekebalan tubuh yang menurun drastis telah menempatkan nyawa puluhan ribu anak di ujung tanduk.
Permintaan pembukaan semua perbatasan ini secara implisit menunjuk pada perlunya koordinasi dan tekanan internasional terhadap semua pihak yang terlibat, termasuk Israel dan Mesir, untuk menjamin koridor kemanusiaan yang aman dan efektif.
Tanpa akses bantuan yang cepat dan masif, puluhan ribu anak di Gaza yang menjadi korban tak berdosa dari konflik ini akan menghadapi maut dalam beberapa waktu ke depan. Jelas, ini adalah panggilan mendesak bagi hati nurani global untuk bertindak cepat.














