UN Women menyebut lebih dari 1 juta perempuan dan anak perempuan di Gaza membutuhkan bantuan pangan, dan hampir seperempat juta membutuhkan dukungan nutrisi mendesak. (Foto: X/@@SofiaCalltorp)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Peringatan keras dilontarkan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) urusan perempuan, UN Women. Organisasi global ini mengungkap data yang memilukan: Lebih dari satu juta perempuan dan anak perempuan di Jalur Gaza saat ini berada dalam kondisi sangat rentan, membutuhkan bantuan pangan segera. Mirisnya lagi, hampir seperempat juta dari mereka memerlukan dukungan nutrisi yang sangat mendesak.
Direktur Kantor UN Women Sofia Calltorp menegaskan, meski gencatan senjata telah tercapai antara Hamas dan Israel, hal itu sama sekali belum mengakhiri krisis kemanusiaan yang akut. Justru, gencatan senjata yang ada, meskipun masih rapuh, merupakan ‘jendela kesempatan untuk segera bertindak dan menghentikan kelaparan sebelum terjadi’.
“Jeda yang diberikan gencatan senjata tidak lantas mengakhiri krisis,” ujar Calltorp kepada wartawan dalam konferensi pers, Jumat (17/10/2025).
Fakta di lapangan menunjukkan, banyak perempuan dan anak perempuan di Gaza yang telah berulang kali mengungsi selama konflik, kini harus menghadapi datangnya musim dingin tanpa tempat berlindung yang layak. Situasi ini menambah daftar panjang penderitaan mereka yang telah kehilangan segalanya.
Skala Perang yang Menghantui Nurani Kolektif
Calltorp menyoroti skala kehancuran yang tak terperikan. Ia menyebutkan, selama konflik berlangsung, perempuan dan anak perempuan di Gaza terbunuh dengan rata-rata dua orang setiap jam.
“Angka ini hanya menggambarkan skala perang ini, dan akan menghantui hati nurani kolektif kita selama beberapa generasi,” tegasnya.
Sebagian besar perempuan Gaza, lanjut Calltorp, diketahui telah mengungsi setidaknya empat kali sejak perang pecah. Gencatan senjata ini, betapapun singkatnya, adalah peluang pertama bagi mereka untuk berhenti berlari, mencari tempat aman, dan mulai menyusun kembali puing-puing kehidupan mereka yang hancur.
Laporan UN Women juga mencatat sebuah perubahan sosial yang signifikan dan membutuhkan perhatian khusus. Kini, satu dari tujuh keluarga di Gaza dikepalai oleh perempuan. Para ibu tunggal ini membutuhkan bantuan yang sifatnya langsung menjangkau mereka.
Bantuan ini krusial ‘agar dapat memberi makan anak-anak mereka, mengakses layanan kesehatan, membangun kembali mata pencaharian, dan memulihkan stabilitas setelah kehilangan segalanya’.
Peran Sentral Perempuan dalam Pemulihan
Menutup pernyataannya, Calltorp menekankan peran sentral perempuan dalam proses pemulihan Gaza di masa depan. Menurutnya, pemulihan di wilayah kantong Palestina tersebut adalah hal yang mustahil tanpa melibatkan mereka.
“Tidak akan ada pemulihan tanpa perempuan dan anak perempuan yang telah menjaga Gaza tetap hidup melewati kelaparan, ketakutan, dan pengungsian,” ujarnya.
Ia mendesak semua pihak yang berkonflik untuk sepenuhnya menegakkan gencatan senjata dan secara khusus meminta para donor global agar meningkatkan dukungan.
Calltorp juga memberikan peringatan keras: “Jika kita tidak menempatkan kebutuhan perempuan dan anak perempuan sebagai prioritas utama, dan jika kita tidak melibatkan organisasi perempuan dalam respons dan pemulihan, perempuan akan sepenuhnya terpinggirkan dari masa depan Gaza.”
UN Women percaya, berinvestasi dalam upaya bantuan yang dipimpin perempuan adalah solusi strategis. Setiap dolar yang diinvestasikan dalam bantuan yang dipimpin perempuan adalah ‘uang muka untuk harapan’ dan menghasilkan keuntungan sebesar US$8 bagi komunitas tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci vital untuk bangkitnya Gaza.














