Memupuk Sifat Manipulatif, Setop Normalisasi “Namanya Juga Anak-anak”!

Memupuk Sifat Manipulatif, Setop Normalisasi “Namanya Juga Anak-anak”!

Diana Medium.jpeg

Minggu, 26 Oktober 2025 – 18:05 WIB

Ilustrasi ibu memarahi anak. (Foto: Shutter Stock)

Ilustrasi ibu memarahi anak. (Foto: Shutter Stock)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

“Namanya juga anak-anak.” Kalimat yang terdengar biasa ini ternyata bisa menjadi bom waktu. Bagi banyak orang tua, frasa itu sering dijadikan tameng untuk membenarkan setiap kesalahan buah hati, tanpa disadari itu justru menanam bibit perilaku bermasalah di masa depan.

Marie (35) merasakan betul dampaknya. Ia yang berbagi atap dengan kakak ipar dan keponakannya, Izam. Suatu hari, ia pulang kerja dan mendapati bayinya yang berusia 4 bulan tiba-tiba batuk pilek. Setelah diselidiki, ternyata Izam kerap batuk tanpa menutup mulut. Saat Marie melaporkannya, respons ayah Izam justru mengejutkan.

Dengan hati-hati, Marie menyampaikan hal ini kepada ayah Izam. Harapannya sederhana: kesadaran untuk lebih memperhatikan. Namun, yang ia terima justru respons sinis tanpa permintaan maaf.

“Lemah bener anak lo, lagian batuk juga enggak seberapa lebay banget,” ujar Marie menirukan percakapan dengan sang kakak.

Konflik lain terjadi di sebuah senja. Putri Marie sedang asyik dengan mainan barunya. Tiba-tiba, Izam datang dan merebut paksa mainan itu. Tangis pun pecah. Marie mendekat dan berusaha menengahi dengan lembut. “Izam, mainan itu kan lagi dimainin adek. Izam kalau mau pinjam nanti ya, kan masih ada mainan lain yang bisa dimainin dulu sambil nunggu adeknya selesai,” katanya.

Bukannya mengerti, Izam malah berlari ke pelukan ibunya dan mengadu bahwa dirinya dilarang bermain. Yang terjadi kemudian justru rentetan makian dari ibu Izam kepada Marie. Meski Marie berusaha membela diri dan menjelaskan kronologi sebenarnya, kakak iparnya itu semakin membabi buta. “Anak kecil masih polos, mana mungkin dia bohong!” ucap Marie mengenang pengalaman dirinya dibentak iparnya.

“Yang saya lihat, ini miris dan kasihan,” ujar Marie, dengan suara lirih dia melanjutkan, “dia (Nizam) masih kecil, tapi karena setiap kesalahan selalu dibiarkan dan dimaklumi, perlahan-lahan saya lihat sikapnya jadi manipulatif. Dia belajar bahwa dengan berbohong dan lari ke orang tua, dia akan selalu dibela.”

Kisah getir tak berakhir di sana. Via (27) mengalami luka yang berbeda, tapi sama pahitnya. Semuanya berawal saat pernikahannya sudah di depan mata. Calon suaminya, tanpa berdiskusi, membuat kesalahan fatal dalam berbisnis yang menyedot setengah dari dana pernikahan mereka. Pengakuan itu baru keluar saat pesta yang dinanti-nantikan tinggal sebulan lagi.

Dengan hati hancur, Via mencari penghiburan pada calon mertuanya, berharap ada solusi atau setidaknya dukungan moral. Namun, yang ia dapatkan di luar dugaan. Bukannya menasihati anaknya, sang ibu justru memarahi Via. “Namanya juga musibah, nanti juga ada lagi rezekinya,” kata sang calon mertua, menggugurkan semua harapan Via. Tiada kata maaf, yang ada justru pembenaran. Pada saat itulah Via menyadari, masa depannya akan diwarnai dengan pola memaklumi yang sama.

Psikolog Anak, Gloria Siagian, mengonfirmasi bahwa pola asuh seperti ini bukanlah hal sepele. Menurutnya, ketika anak hanya diajarkan untuk fokus pada diri sendiri, mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa kebutuhan dan keinginannya lebih utama daripada orang lain.

“Menciptakan anak yang self centered dan egois, mencari segala cara untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Bisa juga (berujung pada perilaku bullying) dan perilaku bermasalah lainnya,” tegas Gloria.

Peringatan itu bukan tanpa alasan. Di Bali, seorang mahasiswa Universitas Udayana, Timothy Anugerah Saputra (22), diduga mengakhiri hidupnya karena menjadi korban perundungan. Keluarganya kini berjuang mencari kejelasan dengan melaporkan dugaan bullying tersebut kepada polisi.

Kepolisian pun bergerak. Hingga kini, sudah 19 saksi telah diperiksa, termasuk dosen, teman sekelas, sahabat, hingga satpam kampus. Kapolsek Denpasar Barat, Kompol Laksmi Trisnadewi Wieryawan, mengungkapkan temuan yang mengejutkan.

“Dari 19 saksi yang kami mintai keterangan, mereka rata-rata menyampaikan bahwa korban ini orangnya pintar, berbicara itu sangat berbobot. Korban ini orang yang berprinsip, bukan tipe-tipe yang akan gampang di-bully seperti itu,” kata Laksmi.

Kisah-kisah ini bagai puzzle yang saling melengkapi. Dari konflik rumah tangga sehari-hari hingga tragedi kampus yang memilukan, semuanya bermuara pada pentingnya mengajarkan tanggung jawab dan empati. Memaklumi itu manusiawi, tetapi ketika dijadikan kebiasaan, dampaknya bisa lebih berbahaya dari yang kita bayangkan. Anak-anak memang perlu dicintai, tetapi mereka juga perlu belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today