Namanya Dikaitkan dengan Kasus Kereta Whoosh, Emiten Milik Luhut ‘Tenggelam’ ke Zona Merah

Namanya Dikaitkan dengan Kasus Kereta Whoosh, Emiten Milik Luhut ‘Tenggelam’ ke Zona Merah

Iwan Medium.jpeg

Kamis, 30 Oktober 2025 – 20:13 WIB

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (27/8/2025).(Foto: inilah.com/Vonita Betalia)

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (27/8/2025).(Foto: inilah.com/Vonita Betalia)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Hari-hari ini, nama Luhut Binsar Pandjaitan sering muncul, dikaitkan dengan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) sekarang Kereta Whoosh yang berkasus. Muncul dugaan korupsi dari proyek yang dicanangkan era Jokowi itu. Di mana, Luhut adalah salah satu menteri kepercayaan Jokowi. 

Atas masifnya kabar tersebut, berdampak kepada anjloknya harga saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), perusahaan yang terafiliasi dengan Luhut itu.

Sejak awal pekan, saham TOBA menunjukkan gejala yang tak biasa. Mengalami pelemahan yang cukup signifikan. Mendekati akhir pekan, tekanan jual membesar. Alami fase pelemahan yang sulit dicarikan obatnya. 

Tercatat pada Rabu (29/10/2025), posisi saham TOBA semakin ‘ngeri-ngeri sedap’. Mengalami terjun bebas 15 persen, sehingga harus masuk ke level auto rejection bawah (ARB). Pengempit saham TOBA ramai-ramai melepas sahamnya ke pasar. Gara-gara TOBA, memberatkan langkah IHSG.

Pada perdagangan Kamis (30/10/2025), saham TOBA kembali tenggelam hingga ke zona merah. Mengalami pelemahan 3,53 persen, atau setara 30 poin ke Rp820 per saham. Turun Rp30 ketimbang penutupan sehari sebelumnya sebesar Rp850 per saham.

Saham TOBA sempat mencatatkan level tertinggi di Rp850, sama dengan harga penutupan kemarin, namun sempat ambruk ke level terendah harian sebesar Rp775 per saham.

Volume perdagangan pada hari itu terbilang sangat tinggi, mencapai lebih dari 240 juta lembar saham, mengindikasikan adanya aksi distribusi atau penjualan besar-besaran.

Meskipun perusahaan terus menggembor-gemborkan transformasi bisnisnya menuju energi hijau termasuk fokus pada bisnis waste management dan kendaraan listrik melalui Electrum kinerja harga saham mencerminkan sentimen kehati-hatian pasar.

Salah satu sentimen negatif yang membayangi adalah kinerja keuangan yang kurang memuaskan, di mana perusahaan sempat mencatatkan kerugian, bahkan setelah divestasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Meskipun transisi ke energi terbarukan adalah langkah positif jangka panjang, investasi besar-besaran yang dibutuhkan untuk sektor ini, seperti pendanaan senilai sekitar Rp2,4 triliun yang disiapkan untuk bisnis waste management, sering kali dianggap pasar sebagai beban biaya yang dapat menekan profitabilitas dalam jangka pendek, memicu aksi profit taking atau pelepasan saham.

Tekanan pada saham berbasis energi juga seringkali dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global, meskipun TOBA sedang beralih fokus, bayang-bayang bisnis batu bara terdahulu masih memengaruhi persepsi investor.
 

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today