MUI: Semua Mantan Presiden yang Telah Wafat Layak Jadi Pahlawan Nasional

MUI: Semua Mantan Presiden yang Telah Wafat Layak Jadi Pahlawan Nasional

Ibnu Medium.jpeg

Kamis, 6 November 2025 – 06:15 WIB

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh.(Foto: inilah.com/Vonita Betalia)

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh.(Foto: inilah.com/Vonita Betalia)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh menyatakan bahwa seluruh mantan presiden Indonesia yang telah wafat layak diangkat menjadi pahlawan nasional atas jasa dan pengorbanan mereka dalam memimpin bangsa di masanya masing-masing.

“Setiap zaman ada tokoh pahlawannya. Kita harus menghargai perjuangan para pemimpin bangsa, termasuk para mantan presiden yang telah memimpin Indonesia. Mereka adalah pahlawan bagi bangsa Indonesia. Pak Karno, Pak Harto, Pak Habibie, dan Gus Dur adalah para pemimpin bangsa yang layak menjadi pahlawan,” ujar Niam dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Ia menegaskan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, termasuk para pemimpin yang telah mendarmabaktikan hidupnya untuk negara.

“Masyarakat tidak boleh menyimpan dendam atau mengungkit keburukan para pemimpin terdahulu. Tidak ada manusia yang sempurna,” tambahnya.

Niam juga memuji sikap Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berjiwa kenegarawanan karena merangkul berbagai usulan tokoh lintas latar belakang dalam wacana pemberian gelar pahlawan nasional.

“Usulan pahlawan dari para tokoh berbagai latar belakang menunjukkan kenegarawanan Presiden Prabowo untuk merangkul dan membangun harmoni serta kebersamaan,” ucapnya.

Dalam ajaran Islam, lanjut Niam, umat dianjurkan untuk mengenang jasa dan kebaikan orang yang telah wafat, terlebih jika mereka adalah pemimpin yang berjasa nyata bagi bangsa.

Sebelumnya, Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) juga mendukung usulan Kementerian Sosial kepada Dewan Gelar agar menetapkan Soeharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional.

Menurut Gus Fahrur, bangsa Indonesia perlu belajar dari masa lalu — baik dari kelebihan maupun kekurangannya — untuk membangun masa depan yang lebih berkeadaban.

“Dalam tradisi Islam ada kaidah penting: Al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, menjaga yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik,” ujar Gus Fahrur.

Ia menilai, baik Soeharto maupun Gus Dur memiliki kontribusi besar dalam dua fase sejarah berbeda yang membentuk arah perjalanan bangsa Indonesia.

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today