Pengamat Pendidikan: Ledakan di SMAN 72 Jakarta Akibat Lemahnya Pengawasan Sekolah

Pengamat Pendidikan: Ledakan di SMAN 72 Jakarta Akibat Lemahnya Pengawasan Sekolah

Clara Medium.jpeg

Minggu, 9 November 2025 – 17:58 WIB

Anggota Polisi Militer Angkatan Laut berjaga pasca terjadi ledakan di depan gerbang SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025). (Foto: Antara/Naufal Khoirulloh)

Anggota Polisi Militer Angkatan Laut berjaga pasca terjadi ledakan di depan gerbang SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025). (Foto: Antara/Naufal Khoirulloh)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengamat Pendidikan Totok Amin Soefijanto, menyoroti peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta yang menyebabkan 96 orang jadi korban luka. Dia mengatakan ledakan terjadi karena lemahnya pengawasan di sekolah.

“Pemerintah bersama kepala sekolah dan orangtua hendaknya menjaga keamanan kawasan sekolah secara serius. Kalau kita menyoroti lemahnya sekolah dalam pencegahan dan antisipasi gangguan keamanan seperti ledakan,” ujar Totok kepada inilah.com, Jakarta, Minggu (9/11/2025).

Totok mengaku heran lantaran pihak sekolah tak curiga dengan gerak gerik terduga pelaku sebelum ledakan. Tak hanya itu, dia mengatakan bahwa peristiwa ledakan terjadi diduga karena pelaku terpapar konten negatif dari media sosial.

“Masak sih sekolah tidak peka dengan gerak gerik warga sekolah? Pengaruh lingkungan dan internet akan terus ada, namun kalau pengawasan dan pencegahan berjalan misalnya melalui satgas pencegahan perundungan dan kekerasan, maka indikasi awal gangguan dan ancaman pasti terdeteksi,” kata dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subkhan. Menurutnya, seorang guru juga harus aktif untuk mengawasi akun-akun media sosial siswanya.

“Tanda-tanda lain di zaman sekarang bisa dilihat di akun-akun medsos anak-anak tersebut. Ini ketika guru tidak dapat mengakses, dapat meminta bantuan teman sekelasnya. Ini sebagai tindakan preventif yang memang tidak mudah dilakukan. Jadi, guru memang perlu sensitif terhadap anak-anak didiknya di kelas dan sekolah,” ucapnya.

Dia berpandangan, guru yang terlalu diberi beban administratif oleh sekolah, dengan kebijakan yang berubah-ubah akan kesulitan fokus dan profesional di kelas. Hal tersebut menurutnya juga harus dipikirkan oleh pihak sekolah.

“Jadi, jangan tambahi beban guru, karena sebenarnya calon guru sudah dibekali untuk memperhatikan anak-anak didiknya, tapi sering tidak optimal karena dikejar jadwal penuntasan materi, administrasi, dan lainnya,” tutur dia.
 

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today