Tak Sebut Peneliti RI dalam Temuan Rafflesia Hasseltii, Anies Semprot Oxford University

Tak Sebut Peneliti RI dalam Temuan Rafflesia Hasseltii, Anies Semprot Oxford University

Ibnu Medium.jpeg

Senin, 24 November 2025 – 15:54 WIB

Anies Baswedan Kritik Universitas Oxford Terkait Tidak Dicantumkannya Nama Peneliti Indonesia. (Foto: photo-grid)

Anies Baswedan Kritik Universitas Oxford Terkait Tidak Dicantumkannya Nama Peneliti Indonesia. (Foto: photo-grid)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Oxford University, salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di dunia, tengah menjadi sorotan tajam dan “bulan-bulanan” publik Indonesia. Pemicunya adalah unggahan akun media sosial resmi kampus Inggris tersebut yang dinilai tidak etis karena menihilkan peran peneliti lokal dalam ekspedisi penemuan bunga langka Rafflesia hasseltii di hutan Sumatera Barat.

Kritik semakin memanas setelah mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, turut melayangkan teguran terbuka yang menohok. Ia mengingatkan Oxford bahwa para peneliti Indonesia bukanlah sekadar karakter pelengkap dalam sebuah permainan.

Teguran Keras Anies: “Are Not NPCs”

Dalam unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), akun resmi Oxford membanggakan penemuan bunga tersebut dengan narasi heroisme peneliti mereka, Chris Thorogood, yang menembus hutan “yang dijaga harimau”. Sayangnya, tidak ada satu pun nama rekan peneliti Indonesia yang dicantumkan dalam caption tersebut.

Melihat hal ini, Anies Baswedan langsung merespons dengan komentar tajam yang menjadi viral. Ia menggunakan istilah “NPC” (Non-Playable Character), istilah dalam dunia game yang merujuk pada karakter figuran yang tidak penting dan digerakkan oleh sistem.

“Dear @UniofOxford, our Indonesian researchers, Joko Witono, Septi Andriki, and Iswandi, are not NPCs. Name them too (Kepada @UniofOxford, peneliti Indonesia kami, Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi, bukanlah NPC. Sebut nama mereka juga),” tulis Anies.

Pernyataan Anies ini seolah mewakili kemarahan kolektif netizen yang merasa kontribusi ilmuwan dalam negeri dikecilkan oleh institusi Barat.

Ironi: Peneliti Asing Mengakui, Institusi Mengabaikan

Blunder komunikasi Universitas Oxford ini terasa semakin ironis. Pasalnya, Chris Thorogood sendiri dalam unggahan pribadinya sebenarnya telah mencantumkan nama-nama peneliti Indonesia secara lengkap dan memberikan apresiasi. Namun, akun resmi institusi justru memangkas kredit tersebut.

“Rafflesia hasseltii: A plant seen more by tigers than people… (Rafflesia hasseltii: Tanaman yang lebih sering dilihat harimau daripada manusia…),” tulis akun resmi Oxford, Minggu (23/11/2025), tanpa menyebut tim lokal.

Hal ini memicu tudingan standar ganda dan kurangnya sensitivitas terhadap etika kolaborasi riset internasional, di mana peran “mitra lokal” sering kali hanya dianggap sebagai pemandu jalan, padahal memegang peran kunci dalam keberhasilan ekspedisi.

Netizen: “Typical Colonizers”

Kolom komentar akun Oxford pun banjir kecaman. Banyak netizen menilai tindakan tersebut mencerminkan mentalitas kolonial yang masih melekat (typical colonizers), di mana pihak Barat mengambil semua pujian atas kekayaan hayati dan kerja keras warga lokal negara berkembang.

“Jangan lupakan Pak Iwan juga, sepertinya beliau yang pertama kali menemukan,” tulis seorang netizen mengingatkan peran warga lokal di lapangan.

Sebagian pihak juga menyarankan agar lembaga riset nasional seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) lebih agresif mempublikasikan temuan secara mandiri agar narasi sains tidak didominasi pihak asing.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi institusi global bahwa di era digital, transparansi dan pengakuan kredit ilmiah—terutama dalam kemitraan Utara-Selatan—adalah harga mati yang diawasi ketat oleh publik.

Topik
Komentar

Visited 1 times, 1 visit(s) today