Duka Konservasi: Bangkai Orangutan Tapanuli Ditemukan di Bawah Tumpukan Kayu dan Lumpur Usai Banjir Sumatera

Duka Konservasi: Bangkai Orangutan Tapanuli Ditemukan di Bawah Tumpukan Kayu dan Lumpur Usai Banjir Sumatera

Ikhsan Medium.jpeg

Jumat, 12 Desember 2025 – 23:24 WIB

Ilustrasi - Seekor spesies orangutan, Orangutan Tapanuli ataua Pongo tapanuliensis bersama anaknya, di hutan Batang Toru, Sumatera Utara, 2 November 2017. (Foto: Sumatran Orangutan Conservation Programme)

Ilustrasi – Seekor spesies orangutan, Orangutan Tapanuli ataua Pongo tapanuliensis bersama anaknya, di hutan Batang Toru, Sumatera Utara, 2 November 2017. (Foto: Sumatran Orangutan Conservation Programme)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Bencana alam yang melanda Sumatera pada akhir November lalu tidak hanya menelan korban jiwa manusia, tetapi kini terkonfirmasi turut merenggut nyawa satwa liar yang sangat langka: Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Keheningan yang mencekam di hutan pegunungan Batang Toru, Sumatera Utara, sejak banjir dan longsor menerjang pada 25 November lalu, kini sedikit terpecahkan, namun dengan berita buruk.

Relawan kemanusiaan yang membantu evakuasi di Kabupaten Tapanuli Tengah menemukan bangkai orangutan di bawah tumpukan lumpur dan kayu di Pulo Pakkat awal pekan ini. Penemuan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan ahli satwa liar dan pelaku konservasi yang sebelumnya berspekulasi apakah kera-kera langka tersebut tersapu bencana atau berhasil mengungsi ke tempat aman.

Kronologi Temuan Jasad Orangutan di Pulo Pakkat

Penemuan bangkai ini dikonfirmasi oleh Decky Chandra, seorang relawan kemanusiaan yang bertugas di kawasan terdampak. Mengutip BBC, Decky mengaku mendapat informasi dari masyarakat pada 3 Desember lalu mengenai adanya jasad yang mencurigakan di antara tumpukan kayu dan lumpur.

“Ketika pertama kali melihat, saya tidak yakin apa itu karena agak rusak. Mungkin karena terkubur di bawah lumpur dan kayu gelondongan,” ungkap Decky. “Ternyata [bangkai] orangutan, masih ada bulunya.”

Decky, yang memiliki latar belakang konservasi, menyatakan kesedihannya. “Saya merasa sedih karena saya pernah bekerja untuk konservasi orangutan dan mereka biasa datang ke tempat ini untuk makan buah-buahan, tetapi sekarang tampaknya tempat ini telah menjadi kuburan mereka.”

Panut Hadisiswoyo, pendiri Orangutan Information Centre (OIC) yang fokus pada konservasi di kawasan tersebut, membenarkan temuan ini setelah melihat foto yang dibagikan Decky.

“Ya benar, confirm. Orangutan itu dalam kondisi terkena luka akibat terseret air bah dan longsor. Pembusukan aktif terjadi dalam waktu lima hingga 10 hari,” kata Panut.

Pukulan Berat bagi Populasi Terancam Punah

Panut menyebutkan bahwa peristiwa longsor akhir November lalu terjadi di blok barat habitat Orangutan Tapanuli, wilayah yang diperkirakan dihuni antara 400 hingga 500 individu. Meskipun jumlah pasti orangutan yang terdampak belum dapat diprediksi, temuan satu bangkai ini menjadi bukti nyata dampak mematikan yang mendera spesies yang baru ditemukan pada tahun 2017 ini.

Kekhawatiran yang sama diungkapkan oleh Profesor Erik Meijaard, Direktur Pelaksana Borneo Futures di Brunei, yang menganalisis dampak bencana dengan citra satelit.

Menurut pengamatan awalnya, yang disesuaikan karena tertutup awan, diperkirakan 7.200 hektare hutan di lereng gunung telah hancur total akibat tanah longsor.

“Area yang hancur tersebut diperkirakan dihuni sekitar 35 orangutan. Karena kerusakannya dahsyat, tidak akan mengejutkan jika semuanya mati. Itu pukulan besar bagi populasi,” tegas Profesor Meijaard.

Ia menggambarkan kehancuran yang terjadi: “Area-area ini terlihat sebagai tanah kosong pada citra satelit. Padahal dua minggu lalu masih berupa hutan primer. Hancur total. Banyak petak seluas beberapa hektare yang benar-benar gundul. Pasti mengerikan di hutan saat itu.”

Secara spesifik, Meijaard mencatat luka yang dialami bangkai tersebut. “Yang mengejutkan saya adalah seluruh daging di wajahnya telah terkoyak. Jika berhektare-hektare hutan longsor besar-besaran, orangutan yang perkasa pun tak berdaya.”

Dampak Meluas dan Kerusakan Pusat Penelitian

Orangutan Tapanuli, bersama Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan, adalah salah satu dari tiga spesies orangutan yang ada di Indonesia. Populasi Orangutan Tapanuli yang tersisa kurang dari 800 ekor di Batang Toru menjadikannya kera terlangka di dunia. Setiap kehilangan individu merupakan pukulan serius bagi upaya konservasi.

Sumatera, yang merupakan rumah bagi spesies terancam punah lainnya seperti harimau Sumatera, gajah Sumatera, dan badak Sumatera, memang menjadi wilayah yang rentan. Selain Orangutan, kekhawatiran besar tertuju pada primata lain seperti gibbon, mengingat sebagian besar hutan pegunungan Tapanuli mengalami longsor besar-besaran.

Kerugian juga menimpa infrastruktur konservasi. Konservasionis melaporkan bahwa banjir baru-baru ini telah merusak sejumlah pusat penelitian orangutan di Sumatera. Yang paling parah, Pusat Penelitian Ketambe, yang merupakan pusat penelitian orangutan pertama di dunia di Aceh, dilaporkan hancur total.

“Kerusakan dan kehancuran ini merupakan pukulan besar bagi konservasi orangutan dan akan berdampak jangka panjang,” kata Ian Singleton, direktur ilmiah program konservasi orangutan Sumatera.

Meskipun sebagian penduduk lokal berharap orangutan berhasil melarikan diri karena naluri mereka, Profesor biologi primata di Universitas Liverpool John Moores, Serge, menepis kemungkinan itu. “Kali ini, saat hujan berhenti, sudah terlambat, seluruh habitat mereka (lereng gunung) telah hancur oleh tanah longsor. Pasti ada konsekuensi bagi mereka.”

Tragedi ini menambah daftar panjang korban bencana yang mencapai lebih dari 990 orang tewas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Topik
Komentar

Visited 3 times, 1 visit(s) today