Hikmah Adanya Bencana

Hikmah Adanya Bencana

WhatsApp-Image-2024-12-03-at-13.39.04_57738476.jpg

Selasa, 16 Desember 2025 – 06:00 WIB

Ilustrasi. (Desain: inilah.com/inu)

Ilustrasi. (Desain: inilah.com/inu)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menjelang akhir tahun 2025, negeri ini kembali dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Tiga provinsi di Pulau Sumatra terdampak begitu parah, yakni Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Banjir seakan menjadi identitas sekaligus rutinitas tahunan di negeri ini.

Belum lagi persoalan sosial ekonomi seperti korupsi yang belum tuntas diselesaikan. Masalah pengangguran dan kemiskinan masih cukup tinggi, angka kriminalitas terus menanjak, serta berbagai problem sosial ekonomi lainnya yang belum tertangani secara optimal.

Sudah banyak langkah yang dilakukan oleh pemerintah, namun persoalan-persoalan tersebut belum terurai dengan baik. Oleh karena itu, kontribusi pemikiran konstruktif menjadi sangat urgen untuk diutarakan. Dengan semakin banyaknya sumbangsih pemikiran, solusi untuk mengatasi persoalan akan terbuka lebih lebar.

Sebagai seorang Muslim, tidaklah sulit untuk memahami, mengurai, serta mencari jalan keluar atas problematika hidup yang dialami saat ini. Sebab, begitu banyak ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. yang menjadi pedoman hidup umat Islam telah mengisyaratkan bagaimana seharusnya memandang persoalan kehidupan di dunia.

Tuntunan Agama

Dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41, Allah Swt. berfirman yang artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
(Q.S. Ar-Rum: 41)

Ayat ini menjadi pedoman penting dalam memandang dan menyikapi setiap kerusakan yang terjadi di muka bumi. Setidaknya terdapat lima poin utama yang diisyaratkan dalam ayat tersebut, yang selayaknya dijadikan tuntunan dan hikmah dalam melihat bencana yang melanda.

Pertama, akar masalah atau penyebab kerusakan. Ayat ini menegaskan bahwa pangkal penyebab seluruh kerusakan di muka bumi, baik di darat maupun di lautan, adalah ulah tangan manusia sendiri. Para mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perbuatan tangan manusia adalah kemaksiatan dan perbuatan dosa. Pelanggaran manusia terhadap ajaran agama, baik dari sisi akidah maupun syariah, merupakan penyebab utama terjadinya kerusakan.

Ketika agama menuntun bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, justru banyak perilaku manusia yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Saat agama melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi, seperti menebang pohon secara sembarangan, kenyataannya tindakan tersebut tetap dilakukan demi pembukaan lahan perkebunan atau permukiman. Akibatnya, terjadi degradasi fungsi hutan. Kondisi hutan yang gundul tidak lagi mampu menyerap dan menampung air hujan, sehingga ketika hujan deras turun, banjir bandang pun tak terelakkan.

Demikian pula ketika agama mencela, bahkan mengancam dengan azab yang pedih bagi pelaku kejahatan seperti korupsi, kriminalitas, dan perbuatan buruk lainnya, namun tuntunan tersebut diabaikan. Maka sangat wajar jika dampaknya kembali dirasakan oleh manusia itu sendiri.

Kedua, solusi atas kerusakan yang terjadi. Ayat ini dengan sangat jelas mengisyaratkan bahwa satu-satunya solusi untuk menghentikan kerusakan di muka bumi adalah kembali kepada tuntunan agama. Karena sebab utama kerusakan adalah perbuatan dosa dan maksiat, maka cara menghentikannya adalah dengan meninggalkan kemaksiatan dan menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama. Selama kemaksiatan terus dilakukan, jangan berharap kerusakan akan berhenti.

Ketiga, hikmah di balik kerusakan. Ayat ini juga mengajarkan bahwa fenomena kerusakan seharusnya menggugah kesadaran manusia bahwa ada kesalahan dalam perbuatan mereka yang mesti diperbaiki. Kerusakan yang terjadi merupakan teguran agar manusia melakukan introspeksi diri dan kembali ke jalan yang benar, yakni hidup sesuai tuntunan agama.

Keempat, pentingnya menjaga keseimbangan dan hidup berdampingan dengan alam. Manusia diciptakan Allah Swt. sebagai khalifah di muka bumi, yang salah satu tugas utamanya adalah menjaga kelestarian alam. Manusia wajib merawat dan menjaga keseimbangan alam semesta. Alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, sehingga menjaga alam berarti menjaga kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Sebaliknya, merusak alam berarti mengingkari amanah sebagai khalifah, dan sangat wajar jika bencana kemudian menimpa.

Kelima, kesadaran akan kelemahan manusia di hadapan Tuhan. Betapapun pesat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia tetap tidak mampu menghindari bencana sepenuhnya. Secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, banyak bencana terjadi di luar prediksi manusia. Kesadaran atas keterbatasan ini seharusnya mendorong manusia untuk bersimpuh, menyadari bahwa yang paling berhak mengatur kehidupan adalah Sang Pencipta kehidupan itu sendiri, bukan teknologi atau manusia semata. Wallahu a‘lam.

Visited 31 times, 2 visit(s) today