AS meraup lebih dari US$200 miliar dari bea masuk baru yang diterapkan Presiden Donald Trump sepanjang 2025, termasuk tarif timbal balik global dan ‘tarif fentanyl’. (Foto: Getty Images/Andrew Harnik)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bisa tersenyum lebar di pengujung 2025. Hanya dalam waktu kurang dari setahun sejak ia kembali menjabat, AS dilaporkan telah mengumpulkan lebih dari US$200 miliar –setara dengan sekitar Rp3.338 triliun– dalam bentuk tarif baru.
Angka fantastis ini dikonfirmasi oleh data terbaru dari Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) pada Senin (15/12/2025). Penerimaan ini berasal dari bea masuk baru yang diberlakukan secara agresif oleh Pemerintahan Trump sejak awal tahun.
Uniknya, klaim cuan besar ini muncul di saat yang bersamaan ketika Mahkamah Agung (MA) AS sedang mempertimbangkan argumen yang menyatakan bahwa tarif baru tersebut ilegal. Jika gugatan di MA ini berhasil, ada kemungkinan tarif-tarif yang diberlakukan Trump di banyak negara dunia ini akan batal.
Mengutip CNBC, angka US$200 miliar tersebut secara spesifik didapat hanya dari tarif baru Trump di masa kepemimpinan keduanya saat ini. Sebelumnya, Trump pada periode 2019-2021 juga menerapkan tarif, namun skalanya lebih kecil dan lebih spesifik ke China.
Jaring Tarif Timbal Balik dan ‘Tarif Fentanyl’
Di awal masa pemerintahan 2025, Trump bergerak cepat dengan menerapkan tarif timbal balik pada impor dari hampir sebagian besar negara di dunia yang memiliki neraca dagang surplus terhadap AS. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menyeimbangkan neraca perdagangan AS.
Tak hanya itu, Trump juga memberlakukan ‘tarif fentanyl’ khusus pada produk dari Kanada, China, dan Meksiko. Kebijakan ini didasari tudingan kegagalan negara-negara tersebut dalam membendung aliran narkotika mematikan, fentanyl, masuk ke Amerika.
“Antara 20 Januari dan 15 Desember 2025, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS mengumpulkan lebih dari US$200 miliar dalam tarif berkat lebih dari 40 perintah eksekutif yang diberlakukan oleh Pemerintahan Presiden Donald Trump,” kata CBP dalam sebuah pernyataan resmi.
CBP menambahkan, “Angka ini menggarisbawahi efektivitas CBP dalam mempromosikan perdagangan yang aman, adil, dan patuh, memperkuat keamanan nasional dan ekonomi Amerika.”
Pengiriman Melambat, Tarif Mulai Menurun
Meskipun meraup angka cuan yang luar biasa, data terbaru pada November menunjukkan adanya sedikit penurunan penerimaan tarif. Pemerintah mengumpulkan US$30,75 miliar pada bulan November, turun tipis dari US$31,15 miliar yang dikumpulkan pada bulan Oktober.
Penurunan ini diyakini terjadi karena pengiriman barang ke Amerika mulai melambat, sebagai efek langsung dari pemberlakuan tarif tinggi. Trump sendiri sempat menurunkan beberapa bea masuk setelah menyadari adanya perlambatan tersebut.
Komisaris CBP, Rodney Scott, menegaskan bahwa penegakan hukum CBP telah memberikan hasil. “Dengan menggabungkan penargetan berbasis intelijen, pengawasan ketat, dan tindakan cepat, kami melindungi ekonomi AS, melindungi industri Amerika, dan meminta pertanggungjawaban mereka yang berupaya melanggar hukum perdagangan kami,” tutupnya.














