Pelatih kepala Kanada, John Herdman, berbicara selama konferensi pers menjelang CONCACAF Nations League di Allegiant Stadium pada 14 Juni 2023 di Las Vegas, Nevada. (Foto: Omar Vega/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kabar merapatnya mantan pelatih Timnas Kanada, John Herdman, ke kursi pelatih Timnas Indonesia semakin menguat. PSSI dikabarkan serius mempertimbangkan juru taktik asal Inggris ini sebagai nahkoda baru Skuad Garuda.
Di luar rekam jejaknya membawa Kanada ke Piala Dunia 2022, ada satu aspek krusial yang membuat Herdman dinilai sebagai “kepingan puzzle yang hilang” bagi Indonesia: kemampuannya meracik skuad multikultural.
Di tengah gencar-gencarnya strategi PSSI menaturalisasi pemain diaspora (keturunan) berkelas Eropa, kehadiran pelatih yang paham psikologis ruang ganti yang beragam menjadi kebutuhan mendesak. Apakah Herdman adalah jawabannya?
Belajar dari Kesuksesan Kanada
Kesuksesan Herdman menyulap Kanada dari tim gurem menjadi raksasa CONCACAF bukan hanya soal taktik di atas lapangan, melainkan manajemen manusia (man-management). Skuad Kanada saat lolos ke Piala Dunia 2022 adalah miniatur dari keberagaman, mirip dengan kondisi Timnas Indonesia saat ini.
Herdman sukses menyatukan pemain dari berbagai latar belakang. Ia mampu memaksimalkan potensi Alphonso Davies (Liberia), Jonathan David (berdarah Haiti), hingga Milan Borjan (kelahiran Kroasia).
Di bawah asuhan Herdman, tidak ada sekat antara pemain “asli” kelahiran Kanada dan pemain imigran. Ia menanamkan filosofi “The Brotherhood” yang membuat semua pemain bertarung mati-matian demi satu logo di dada.
Cocok untuk ‘Generasi Emas’ Diaspora Indonesia
Konteks ini sangat relevan dengan wajah Timnas Indonesia di tahun 2025. Skuad Garuda kini dihuni oleh kombinasi talenta lokal terbaik dan deretan pemain diaspora kelas satu seperti Jay Idzes, Nathan Tjoe-A-On, hingga wajah-wajah baru yang terus didatangkan PSSI.
Tantangan terbesar pelatih Timnas Indonesia saat ini seringkali bukan pada skill teknis, melainkan chemistry. Bagaimana menyatukan pemain yang besar dengan budaya sepak bola Eropa dengan pemain yang berkompetisi di liga lokal agar menjadi satu unit yang padu.
John Herdman memiliki CV yang sempurna untuk tugas ini. Ia terbukti tidak anti-pemain keturunan; sebaliknya, ia menjadikan keberagaman latar belakang pemain sebagai senjata utamanya.
Menghapus Ego Bintang
Salah satu keahlian Herdman adalah meredam ego pemain bintang demi kolektivitas tim. Di Kanada, ia berhasil membuat bintang sekelas Alphonso Davies (Bayern Munchen) bermain melebur dengan rekan-rekannya yang bermain di MLS atau liga yang lebih rendah tanpa ada kesenjangan.
Jika resmi ditunjuk PSSI, pendekatan psikologis Herdman ini diharapkan mampu menjaga harmonisasi ruang ganti Timnas Indonesia. Ia adalah tipe pelatih yang bisa menjadi “ayah” sekaligus mentor yang tegas bagi para pemain.
Kini, publik sepak bola Tanah Air menanti keputusan akhir PSSI. Jika tujuannya adalah memaksimalkan potensi pemain diaspora tanpa mematikan peran talenta lokal, John Herdman tampaknya adalah sosok yang paling mengerti cara mainnya.














