Survei Celios: Mayoritas Publik Dukung Perpanjangan Proyek Kereta Cepat ke Surabaya Digarap China

Survei Celios: Mayoritas Publik Dukung Perpanjangan Proyek Kereta Cepat ke Surabaya Digarap China

Iwan Medium.jpeg

Jumat, 19 Desember 2025 – 13:27 WIB

Ilustrasi Perbandingan biaya ke Bandung naik Whoosh dengan transportasi lain (Foto: Sekretariat Negara)

Ilustrasi Perbandingan biaya ke Bandung naik Whoosh dengan transportasi lain (Foto: Sekretariat Negara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Terkait rencana pemerintah meneruskan proyek kereta cepat atau kereta Whoosh hingga ke Surabaya, bekerja sama dengan China, ternyata banyak mendapat dukungan dari masyarakat.

Hal itu terungkap dalam hasil kajian Center of Economic and Law Studies (Celios) bertajuk Survei China–Indonesia 2025 yang memotret persepsi publik Indonesia atas kedekatan Indonesia dengan China.

“Dukungan publik terhadap perpanjangan proyek kereta cepat hingga Surabaya, sangat tinggi. Mencapai 78 persen. Alasannya, modernisasi transportasi, peningkatan konektivitas, dan pertumbuhan ekonomi,” papar Yeta Purnama, peneliti Celios, Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Survei mencatat, lanjut Yeta, sebanyak 32 persen responden mendukung China menjadi mitra utama bagi Indonesia. Disusul negara-negara barat (22 persen) dan sesama negara Asean (17 persen). “Namun, sektor kerja sama pertahanan, Rusia justru menjadi sumber utama alutsista pilihan responden (42 persen). Disusul China dengan 19 persen,” ungkapnya.

Survei China–Indonesia 2025 dari Celios ini, kata Yeta, menggambarkan masyarakat Indonesia sangat terbuka terhadap kerja sama dengan China. Namun, tetap berpijak kepada kehati-hatian strategis.

“Intinya, publik mendukung pendekatan dari berbagai arah, memaksimalkan manfaat ekonomi serta tetap menjaga kedaulatan dan otonomi kebijakan luar negeri,” ungkapnya.

Terkait keanggotaan Indonesia di BRICS, Direktur China–Indonesia Desk Celios, Muhammad Zulfikar Rakhmat menyebut, mendapat dukungan hampir bulat (100 persen). Di mana, 98 persen responden berpandangan positif.

“Alasan utama mencakup akses pasar baru (29 persen), penguatan posisi tawar internasional (27 persen), serta pengurangan ketergantungan pada negara-negara Barat (26 persen),” kata Zulfikar.

Survei mencatat, kata Zulfikar, sebanyak 94 persen responden menilai Presiden Prabowo dekat atau sangat dekat dengan China. Kedekatan ini dipersepsikan membawa dampak positif, terutama dalam bentuk peluang ekonomi (31 persen) dan penguatan diplomasi (26 persen).

Selain itu, sebanyak 22 persen responden menilai hubungan ini membantu Indonesia menyeimbangkan pengaruh Amerika Serikat (AS). Meski demikian, sebagian kecil responden menyatakan kekhawatiran terkait kedaulatan nasional (7 persen) dan persepsi publik internasional (8 persen), menunjukkan bahwa isu keseimbangan geopolitik tetap menjadi perhatian.
 

Visited 1 times, 1 visit(s) today