Bang Yos Lega Pramono Akhirnya Bongkar Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said

Bang Yos Lega Pramono Akhirnya Bongkar Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said

Haris Medium.jpeg

Rabu, 14 Januari 2026 – 13:35 WIB

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat memulai pembongkaran tiang monorel yang mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).(Foto: inilah.com/Harris Muda)

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat memulai pembongkaran tiang monorel yang mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).(Foto: inilah.com/Harris Muda)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mengaku lega setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akhirnya memulai pembongkaran tiang monorel yang mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

Pria yang akrab disapa Bang Yos itu turut menyaksikan pembongkaran secara simbolis tiang monorel pertama di sisi timur Stasiun LRT Setiabudi Utara.

Dalam kesempatan tersebut, Sutiyoso mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno.

“Jujur saja hari ini hati saya lega sekali, gitu ya. Dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini,” kata Bang Yos kepada awak media.

Bang Yos kemudian menceritakan awal mula hadirnya tiang monorel tersebut di sepanjang Jalan HR Rasuna Said. Ia mengatakan, monorel awalnya adalah bagian dari perencanaan besar sistem transportasi Jakarta yang mulai dirancang saat era kepemimpinannya, 2003 silam.

Kebijakan untuk menghadirkan monorel kata Bang Yos juga telah melalui kajian panjang hingga studi yang dilakukannya di beberapa negara, termasuk Bogota, Kolombia.

Di saat yang bersamaan, Pemprov DKI juga menyusun jaringan transportasi makro ibu kota yang menurutnya terbagi dari empat moda. Adalah MRT, monorel, busway, dan waterway.

“Dan ini dirancang secara terintegrasi. Jalurnya sudah masing-masing tapi terintegrasi, sehingga rakyat Jakarta dan sekitarnya dari titik mana mau ke mana pasti dapat transportasi makro tadi,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, Bang Yos menuturkan Pemprov DKI Jakarta kala itu memulai pengembangan transportasi dari moda busway. Langkah tersebut diambil karena pemerintah daerah kesulitan mendapatkan investor, mengingat kondisi ekonomi nasional belum sepenuhnya pulih pascakerusuhan 1998.

Pada saat yang sama, Bang Yos menyebut pihaknya juga membangun monorel secara paralel sebagai upaya mempercepat penanggulangan kemacetan di Ibu Kota.

“Nah, oleh karena itu, 2004 supaya cepat bisa kita selesaikan, dicanangkan oleh Presiden Megawati. Artinya saat dicanangkan Presiden itu berarti segala sesuatunya itu sudah ada, gitu. Perencanaannya jelas, investornya juga ada dari China, gitu,” ujarnya menjelaskan.

Sayang, pada tahun 2007 kepemimpinan Bang Yos berakhir. Sejak saat itu, proyek monorel pun terbengkalai dan tidak dilanjutkan oleh gubernur berikutnya.

“Dan tahun 2014, Monorel ini diganti dengan LRT yang tidak ada rencana sebelumnya. Tentu Gubernur waktu itu punya alasan yang saya tidak tahu ya. Nah, sejak itulah mangkrak total menjadi besi tua, jadi barang seperti ini yang merusak estetika kota, gitu,” ujarnya.

Lebih jauh Sutiyoso mengataka, dengan kondisi yang sudah mangkrak selama dua dekade lebih, Pemprov DKI hanya punya dua pilihan, melanjutkan atau tidak sama sekali. Bagi dia, keputusan yang diambil Pramono untuk tidak melanjutkan dan kemudian melakukan pembongkaran sudah tepat.

“Ya kepastian itulah yang diberikan oleh Gubernur Pramono dan itu adalah keputusan yang paling tepat,” pungkasnya. 

Visited 5 times, 1 visit(s) today