Wamenlu Anis Matta: Filantropi Islam Harus Jadi ‘Kekuatan Ketiga’ Penyeimbang Negara dan Pasar

Wamenlu Anis Matta: Filantropi Islam Harus Jadi ‘Kekuatan Ketiga’ Penyeimbang Negara dan Pasar

Reyhaanah Medium.jpeg

Kamis, 15 Januari 2026 – 19:33 WIB

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Anis Matta dalam ajang Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa di NT Tower, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026). (Foto: inilah.com/Reyhanaah)

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Anis Matta dalam ajang Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa di NT Tower, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026). (Foto: inilah.com/Reyhanaah)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Anis Matta, menyerukan agar gerakan filantropi di Indonesia tidak lagi sekadar bermain di ranah karitatif (bantuan sosial sesaat). Ia mendorong lembaga pengelola dana umat untuk naik kelas menjadi entitas strategis yang mampu menyeimbangkan peran Negara dan Pasar.

Gagasan visioner ini disampaikan Anis saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam ajang Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa di NT Tower, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).

Menurut Anis, saat ini dunia bertumpu pada dua kekuatan besar: Negara yang bekerja berbasis anggaran (APBN) dan Pasar yang bekerja berbasis keuntungan (profit). Di sinilah filantropi harus masuk sebagai kekuatan penyeimbang.

Keterbatasan Negara vs Dominasi Pasar

Anis membedah struktur ekonomi nasional dengan data makro. Ia menyebutkan bahwa kemampuan negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) relatif terbatas jika dibandingkan dengan total produktivitas nasional.

“APBN Indonesia berada di kisaran Rp3.600–Rp3.700 triliun atau sekitar 200 miliar dolar AS. Sementara Produk Domestik Bruto (GDP) kita mencapai sekitar 1,5 triliun dolar AS. Artinya, sebagian besar produktivitas nasional dihasilkan oleh pasar,” jelas Anis.

Ia mengakui bahwa pasar adalah organisasi paling efektif dan efisien karena orientasinya yang jelas: keuntungan. Namun, dominasi pasar tanpa penyeimbang seringkali menciptakan ketimpangan.

The Power of Goodwill: Kekuatan Rp 42 Triliun

Di sisi lain, lembaga filantropi memiliki “DNA” yang unik. Mereka tidak disetir oleh birokrasi anggaran seperti negara, tidak pula mengejar profit seperti pasar. Bahan bakar utama mereka adalah niat baik (goodwill) dan kepedulian sosial.

Siapa sangka, kekuatan “niat baik” ini ternyata memiliki dampak ekonomi yang raksasa.

Anis mengungkapkan data impresif bahwa pada tahun 2025, penghimpunan dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) di Indonesia berhasil menembus angka Rp42 triliun (hampir 3 miliar dolar AS).

“Ini artinya bahwa niat baik memiliki dampak yang sangat besar,” tegasnya.

Menuju Level Strategis

Dengan modal sosial dan finansial sebesar itu, Anis menilai sudah saatnya organisasi filantropi mengambil peran lebih strategis. Bukan hanya sebagai “pemadam kebakaran” saat ada bencana atau kemiskinan, tetapi sebagai pilar penyangga ekonomi yang mengisi celah kosong yang tidak terjangkau oleh APBN maupun mekanisme pasar.

“Jika kita berpikir sekarang untuk mengembangkan kerja filantropi kepada satu level yang lebih strategis, maka caranya adalah organisasi filantropi ini harus menjadi faktor penyeimbang antara negara dan pasar,” pungkas Anis.

Pernyataan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi lembaga zakat dan kemanusiaan di Indonesia untuk mengelola dana umat secara lebih profesional, produktif, dan berdampak jangka panjang.

Visited 3 times, 1 visit(s) today