Profil Franky Oesman Widjaja (Foto: smart-tbk)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencium ketidakberesan free float saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), perusahaan energi yang terafiliasi Sinarmas Group. Per 10 Februari 2026, DSSA mencatat free floatnya mencapai 20,42 persen.
Namun usai Bursa Efek Indonesia (BEI) Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) membuka data 1 persen kepemilikan daham, hasilnya tak sikron dengan catatan DSSA. Di mana, free float DSSA hanya sekitar 7,63 persen. Mayoritas saham sebanyak 92,37 persen dimiliki oleh DSSA dan investor asing.
Informasi saja, free float adalah porsi saham emiten yang dimiliki publik atau masyarakat, yang dapat diperdagangkan secara bebas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tidak termasuk saham yang dikuasai pemegang saham pengendali, mayoritas, komisaris, direksi, atau karyawan.
Berdasarkan data KSEI per 27 Februari 2026, struktur kepemilikan saham DSSA didominasi pemegang saham pengendali dari internal grup. Yakni PT Sinar Mas Tunggal yang tercatat sebagai pemegang saham terbesar. Yakni, sebanyak 4,61 miliar saham atau setara 59,90 persen dari total saham beredar.
Di posisi berikutnya, Dian Swastatika Sentosa sendiri memiliki 1,51 miliar saham atau 19,68 persen. Sementara, investor asing memiliki porsi cukup signifikan. Sebut saja, Citibank Hong Kong S/A Citibank HK SA PBG Clients HK menggenggam 318,74 juta saham (4,14 persen).
Selain itu, Fitzgerald & Wilkison Investments Ltd yang berbasis di British Virgin Islands memiliki 290,98 juta saham DSSA, atau setara 3,78 persen. Sedangkan UOB Kay Hian Private Limited dan Bank of Singapore Limited yang sama-sama berbasis di Singapura (asing), menggenggam masing-masing saham di atas 1 persen. Yakni 288,09 juta saham (3,74 persen) dan 87,18 juta saham (1,13 persen).
Merujuk data laporan bulanan registrasi pemegang efek, DSSA mengumumkan, kepemilikan saham masyarakat sebanyak 1,57 miliar saham, atau setara 20,4 persen.
Sedangkan saham treasury mencapai 1,51 miliar, atau setara 19,7 persen. Dan, jumlah pemegang saham hingga 10 Februari 2026, tercatat 5.039 pemegang saham.
Jadi Atensi MSCI
Anomali atau penyimpangan angka free float DSSA ini, sebelumnya pernah menjadi sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pada Agustus 2025, MSCI mengumumkan DSSA masuk dalam indeks Global Standard.
Pihak MSCI menyatakan adanya perlakuan khusus terhadap saham yang dikendalikan Grup Sinarmas itu. Alasannya karena adanya ketidakpastian free float.
“Mengingat bobot yang signifikan dalam MSCI Indonesia Indeks, MSCI akan menerapkan adjustment factor sebesar 0,5 pada Foreign Inclusion Factor (FIF) saham tersebut,” ungkap MSCI dalam rilis saat itu.
Bila mencermati pergerakan saham DSSA, memang tidak terlalu likuid di lantai bursa. Ditandai dengan volume transaksi yang terbatas. Padahal bila dilihat secara nilai, kapitalisasi pasar DSSA di bursa mencapai Rp650 triliun. Dengan penyesuaian itu, bobot FIF untuk saham DSSA turun dari 0,25 menjadi 0,13.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.














